About Us

14 Juli 1920 rombongan pertama para suster Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) dari Provinsi Belanda tiba di Tual. Mereka terdiri dari Sr. Angelina van Zeyl (pemimpin), Sr. Tharcisius Bogaers, Sr. Prisca Timmermann dan Sr. Juliana. (yang digantikan oleh Sr. Alphonsa Mattens). Dalam perjalanan dari Belanda Sr. Clara Bakkenhoven jatuh sakit, dan terpaksa harus dirawat di rumah sakit milik para suster CB di Batavia. Sr. Paula Paalvast diputuskan untuk menemani Sr. Clara dan terpaksa untuk sementara waktu tinggal di Batavia. Setelah Sr. Clara sehat kembali, mereka berdua melanjutkan perjalanan dan tiba di Langgur tanggal 12 September 1920. Mereka melayani dibidang pendidikan (sekolah danĀ  asrama putri), merawat orang sakit, rumah tangga, dan membantu pastoral. Kemudian di tahun 1923 dan 1925 datang lagi rombongan yang masing-masing terdiri dari 3 suster, semakin memperkuat pelayanan di Maluku. Dengan semakin bertambahnya tenaga dari Belanda, mereka membuka komunitas baru di Saumlaki.

17 Oktober 1928 rombongan pertama PBHK, yang terdiri dari Sr. Angelina van Zeyl, Sr. Adriana de Kort, Sr. Christine Mommers, dan Sr. Xaveria Moorman tiba di Merauke, dari Langgur. Karena daerah ini juga merupakan wilayah Vikariat Apostolik di kepulauan Maluku, maka komunitas Merauke merupakan bagian dari misi di Maluku. Setelah mereka mulai membuka komunitas-komunitas di pedalaman setelah tambahan tenaga dari Belanda mulai berdatangan. Pada tanggal 20 Mei 1948 secara resmi misi Irian Jaya lepas dari Maluku, disebabkan sulitnya hubungan antara Maluku dan Merauke. Saat itu terjadi konflik politik antara pemerintah Indonesia dan Belanda di tempat tersebut. Sr. Adriana de Kost ditetapkan sebagai pemimpin misi di Irian Jaya.

4 Juni 1928 rombongan pertama PBHK dari Belanda, yang terdiri dari Sr. Patricia Leemijer, Sr. Marianna Dieckmann, Sr. Valeria Schneiders, dan Sr. Crescentia van Hasselt tiba di Purworejo. Mereka melayani di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, asrama putri dan kelompok belajar menjahit. Dengan perkembangan misi di Langgur, Merauke dan Purworejo, maka provinsi Belanda memiliki tiga daerah misi di Indonesia.

Dengan mempertimbangan perkembangan yang ada di Regio Jawa, pada tanggal 29 Mei 1971 Dewan Umum PBHK menyetujui berdirinya Provinsi Jawa dengan susunan Dewan Provinsi: Sr. Philomena Vernooy (provinsial) dan anggotanya Sr. Silvestra Sukini, Sr. Everharda Overmars, Sr. Christophora de Brouwer, dan Sr. Gabriella Sri Sudati.

Pada tahun 1990, mulai ada pemikiran diadakannya penggabungan dari ketiga regio yaitu Regio Jawa, Maluku dan Papua, menjadi satu Provinsi, maka pada tanggal 13 Juli 1995, terjadi penggabungan dari ketiga daerah menjadi satu Provinsi PBHK yang diberi nama Provinsi PBHK Indonesia. Sekarang ini Kongregasi PBHK berpusat di Kramat Jakarta, yang mempunyai wilayah pelayanan ditiga Daerah yaitu: Daerah Jawa, Maluku dan Papua.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrPinterestMySpaceShare

Comments

comments

Powered by Facebook Comments