Author Archives: admin

MENAMBAH PENGETAHUAN

foto_ayah_dan_anak_mirip-20150724-003-rita

Mencoba memahami Sabda Tuhan:

Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. (Injil Yohanes 20: 29)

Secara manusiawi ada tahapan untuk kepercayaan. Dan kepercayaan adalah bagian dari keutuhan manusia.

Bina Iman Anak dan Remaja melalui tahapan :

sumber

http://kutikata.blogspot.co.id/2009/09/tahap-perkembangan-kepercayaan.html

Tahap Perkembangan Kepercayaan
Sari Pemikiran James W. Fowler dalam “Teori Perkembangan Kepercayaan: Karya-karya Penting James W. Fowler”, Editor. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1995

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Satu Manusia sebagai Pemberi Makna
James W. Fowler mengembangkan suatu teori yang disebutnya “Faith Development Theory”. Teorinya ini lebih menjurus pada psikologi agama. Namun pendekatannya ini membantu kita dalam memahami tahapan perkembangan percaya seorang manusia dan satu komunitas. Atau membantu dalam memahami alasan-alasan mengapa dan bagaimana seorang menjadi percaya atau beragama.

Beragama bagi Fowler adalah bagian dari proses mencari makna, sebab itu menurutnya manusia adalah meaning maker (pemberi arti). Manusia adalah subyek yang bermakna dan memberi/menciptakan makna pada sesuatu atau pada iman (faith), dan kepercayaan (belief)/agama. Proses memberi makna itu yang memperlihatkan bahwa manusialah yang menyusun suatu penjelasan terhadap berbagai pengertian yang semula tidak tersusun secara rapi. Fenomena-fenomena percaya awal adalah suatu susunan pemikiran dan pengertian yang ‘talamburang’ (tidak teratur, ajeg). Manusialah yang menyusunnya. Dalam proses penyusunan itu manusia juga yang mencari sesuatu material/simbol (sign) yang sinonim atau bisa merepresentasi hal yang dipercayainya itu. Karena itu menjadi percaya, atau iman adalah juga suatu proses semantik yang dibuat oleh manusia.

Rupanya Fowler tidak mau terlalu dipusingkan dengan hal-hal semantik itu seperti halnya para antropolog agama seperti E.B. Tylor (di masa Klasik) atau Ruth Benedict dan Fiona Bowie (di masa modern).

Sederhananya bagi Fowler ialah bahwa faith dimengertinya sebagai sesuatu yang luas dari sekedar ‘kepercayaan’ (belief), walau keduanya sinonim dengan ‘tindak pengartian’ (upaya memberi arti/menjelaskan). Sebab kepercayaan menyangkut mental untuk menciptakan, memelihara dan mentransformasi arti. Hasilnya adalah apa yang disebutnya sebagai ‘kepercayaan eksistensial’.

Kepercayaan eksistensial itu sendiri menurutnya merupakan suatu kegiatan relasional, artinya ‘berada-dalam-relasi-dengan-sesuatu’. Maka kepercayaan eksistensial diawali oleh ‘rasa percaya’ (yun. Pisteuo = saya percaya dalam arti bahwa saya menyerahkan diri seluruhnya dan mengandalkan engkau).

Hal itu berarti:
Pertama, kepercayaan sebagai cara seorang pribadi (atau kelompok) melihat hubungannya dengan orang lain, dengan siapa ia merasa diri bersatu berdasarkan latar belakang sejumlah tujuan dan pengartian yang dimiliki bersama.

Ini menjurus pada adanya suatu ajaran yang membentuk ranah kognisi dalam hal menjadi percaya. Tetapi juga suatu sistem praktek yang membentuk ranah afeksi dan motorik.
Kedua, kepercayaan sebagai cara tertentu, dengan mana pribadi menafsirkan dan menjelaskan seluruh peristiwa dan pengalaman yang berlangsung dalam segala lapangan daya kehidupannya yang majemuk dan kompleks.

Aktifitas menafsir (interpretation) dan menjelaskan (clarification, verstehen) di sini mengamanatkan bahwa kepercayaan adalah bagian dari suatu hermeneutika kehidupan, yang terkait bukan dengan dokumen-dokumen kudus yang turut menyusun dogma agama melainkan dokumen-dokumen kehidupan yang selalu dijumpai manusia dalam pengalaman nyata di masyarakat/dunianya.

Ketiga, kepercayaan sebagai cara pribadi melihat seluruh nilai dan kekuatan yang merupakan realitas paling akhir dan pasti bagi diri dan sesamanya. Di sini ditentukan mana ‘gambaran penuntun’ mengenai yang ultim yang akhirnya dapat menggerakkan dan menjadi acuan hidup kita.

Pada sisi ini muncul seperangkat etika dalam agama, serta ajaran mengenai Tuhan sebagai yang ultim.

Dua Fides quae creditur, Fides qua creditur

Untuk merinci isi dari kepercayaan itu, Fowler membedakan antara fides quae creditur, yaitu substansi dan isi kognisi dari hal yang dipercayai, dan fides qua creditur yakni cara kita percaya akan hal tersebut.
Dengan demikian kepercayaan selalu ada dalam dialektika antara ajaran untuk menjadi percaya dan cara/praktek menjadi percaya. Apa yang disebut percaya tidak sekedar menerima secara taken for granted tetapi belajar secara kritis melalui praksis. Sebab apa yang menjadi isi kognisi (ajaran) sesungguhnya adalah kumulasi dari apa yang dialami dalam hidup sehari-hari.
Beberapa teolog lain seperti John B. Cobb, jr, menunjukkan bahwa hal menjadi percaya baru datang pada saat manusia melakoni aktitifitas sehari-hari (dailiy activity). Maka kepercayaan juga ditentukan oleh aktifitas dan peran sosial/tanggungjawab.

Tiga Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan

Tahap 0: Kepercayaan Elementer Awal
(Primal Faith)
Tahap ini timbul sebagai Tahap 0 (nol) atau Pratahap (pre-stage, yaitu masa orok, bayi, 0 sampai 2 atau 3 tahun). Kepercayaan ini disebut juga pratahap “kepercayaan yang belum terdiferensiasi (undifferentiated faith), karena: (a) ciri disposisi praverbal si bayi terhadap lingkungannya yang belum dirasakan dan disadari sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari dirinya, dan (b) daya-daya seperti kepercayaan dasar, keberanian, harapan dan cinta (serta daya-daya lawannya) belum dibedakan lewat proses pertumbuhan, melainkan masih saling tercampur satu ama lain dalam suatu keadaan kesatuan yang samar-samar. Rasa percaya elementer ini bersifat pralinguistis (sebelum tumbuh kemampuan membahasa), praverbal, dan prakonseptual.

Tahap 1: Kepercayaan Intuitif-Proyektif
(Intuitive-Projective Faith)
Pola eksistensial yang intuitif-proyektif menandai tahap perkembangan pertama (umur 3-7 tahun) karena daya imajinasi dan dunia gambaran sangat berkembang. Apa yang dialami di Tahap 0 (nol) menjadi hal yang sangat berarti dalam Tahap 1. Dunia pengalaman sudah mulai disusun melalui seperangkat pengalaman inderawi dan kesan-kesan emosional yang kuar. Namun kesan-kesan itu diangkat ke dalam alam imajinasi. Walau demikian pada tahap ini anak sudah mulai peka terhadap dunia misteri dan Yang Ilagi serta tanda-tanda nyata kekuasaan.

Tahap 2: Kepercayaan Mitis-Harfiah
(Mithic-Literal Faith)
Bentuk kepercayaan ini muncul sebagai tahap kedua (umur 7-12 tahun). Di sini mulai bertumbuh operasi-operasi logis terhadap pengalaman imajinatif di Tahap 1. Operasi-operasi logis itu mulai bersifat konkret, dan mengarah pada adanya kategori sebab-akibat. Di sini anak berusaha melepaskan diri dari skiap egosentrismenya, mulai membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif orang lain, serta memperluas pandangannya dengan mengambil alih pandangan (perspektif) orang lain. Kemampuan untuk menguji dan memeriksa perspektifnya sudah mulai tersusun baik, walau pada tingkat moral anak belum bisa menyusun dunia batin seperti perasaan, sikap dan proses penuntun batiniah yang dimilikinya sendiri.

Tahap 3: Kepercayaan Sintetis-Konvensional
(Synthetic-Conventional Faith)
Tahap ini muncul pada masa adolesen (umur 12-20 tahun). Di sini muncul kemampuan kognitif baru, yaitu operasi-operasi formal, maka remaja mulai mengambil alih pandangan pribadi rang lain menurut pola pengambilan perspektif antar-pribadi secara timbal balik. Di sini sudah ada kemampuan menyusun gambaran percaya pada person tertentu, termasuk person yang Ilahi.

Tahap 4: Kepercayaan Individuatif-Reflektif
(Individuative-Reflective Faith)
Tahap ini muncul pada umur 20 tahun ke atas (awal masa dewasa). Pola ini ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan, dan nilai (religius) lama. Pribadi sudah mampu melihat diri sendiri dan orang lain sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan, tetapi juga yakin bahwa dia sendirilah yang memikul tanggungjawab atas penentuan pilihan ideologis dan gaya hidup yang membuka jalan baginya untuk mengikatkan diri dengan cara menunjukkan kesetiaan pada seluruh hubungan dan pangilan tugas. Disebut ‘individuatif’ karena baru saat inilah manusia tidak semata-mata bergantung pada orang lain, tetapi dengan kesanggupannya sendiri mampu mengadakan dialog antara berbaagai ‘diri; sebagaimana dilihat dan dipantulkan orang-orang dengan ‘diri sejati’ yang hanya dikenal oleh pribadi yang bersangkutan itu sendiri. Manusia mengalami dirinya sebagai yang khas, unik, aktif, kritis, kreatif penuh daya.

Tahap 5: Kepercayaan Eksistensial Konjungtif
(Conjunctive Faith)
Kepercayaan eksistensial konjungtif timbul pada masa usia pertengahan (sekitar umur 35 tahun ke atas). Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kebenaran hanya akan dicapai melalui dialektika, karena sadar bahwa manusia memerlukan suatu tafsiran yang majemuk.
Di sini beragama dan kepercayaan juga dibayang-bayangi oleh simbol, metafora, cerita, mitos, dll yang memerlukan penafsiran kembali.

Tahap 6: Kepercayaan Eksistensial yang Mengacu pada Universalitas
(Universalizing Faith)
Kepercayaan ini berkembang pada umur 45 tahun ke atas. Pribadi melampaui tingkatan paradoks dan polaritas, karena gaya hidupnya langsung berakat pada kesatuan dengan Yang Ultim, yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Pribadi sudah berhasil melepaskan diri (kenosis) dari egonya dan dari pandangan bahwa ego adalah pusat, titik acuan, dan tolok ukur kehidupan yang mutlak. Perjuangan akan kebenaran, keadilan, dan kesatuan sejati berdasarkan semangat cinta universal ini secara antisipatif menjelmakan daya dan dinamika Kerajaan Allah sebagai persekutuan cinta dan kesetiakawanan antara segala sesuatu yang ada.

sumber

https://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_agama#Pertumbuhan_Agama_pada_Masa_Anak-Anak

Perkembangan Individu terhadap agama menurut Zakiah Darajat:
Tahap Usia Penjelasan
Tahap I Kanak-kanak 0-6 tahun Pendidikan agama pada umur ini mulai semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilihatnya, maupun perlakuan yang dilakukannya.[11]
Tahap II Pra Remaja 7-12 tahun Ketika anak masuk sekolah dasar, dalam jiwanya ia telah membawa bekal rasa agama yang terdapat dalam kepribadiannya, dari orang tuanya dan dari gurunya ditaman kanak-kanak.[11]
Tahap III Remaja
13-16 tahun Perasaan kepada Tuhan tergantung kepada perubahan emosi yang sedang dialami. kadang-kadang ia sangat membutuhkan Tuhan, kadang-kadang ia kurang membutuhkan Tuhan.[11]
Tahap IV Remaja Akhir 17-21 tahun Kecerdasan remaja telah sampai kepada menuntut agar ajaran agama yang ia terima masuk akal, dapat dipahami dan dijelaskan secara ilmiah dan rasional, namun perasaan masih memegang peran penting dalam sikap dan tindakan agama remaja.[11]
Anak-anak mengenal Tuhan, melalui bahasa.[11]Dari kata-kata orang yang ada pada lingkungannyam yang pada permulaan diterimanya secara acuh tak acuh saja.[11]
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan).[1] Dalam bukunya yang berjudul The Development of Religion on Childern, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu:[1]
• The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun.[1]Pada tingkat ini konsep mengenal Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.[1] Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.[1]
• The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar.[1] Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang mendasar kepada kenyataan (realita).[1]
• The Individual Stage (Tingkat Individual)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosional yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.[1]

Diambil dari group formator
Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrPinterestMySpaceShare

RENUNGAN HARIAN PATER JULES CHEVALIER

Chevalier 2`

02 APRIL

1867 Seminari Issoudun menerima murid yang pertama Lucien Cattin. Ia membawa uang asrama 588 gobang, sumbangan dari 588 orang (dikemudian hari ia menjadi misionaris Yesuit).

Takutilah Musuh Dari Dalam

Musuh yang paling berbahaya dan harus ditakuti, bukan dari luar, melainkan dari diri kita sendiri. Kodrat kita adalah sarang keinginan yang meradang, yang merupakan godaan.
Hawa nafsu yang melimpah dalam hati kita, kebiasaan-kebiasaan yang jahat inilah penghalang-penghalang keselamatan kita.
Betapa banyak orang Kristen, imam, biarawan yang dahulu penuh semangat bernyala-nyala, lama-kelamaan menjadi lesu dan meninggalkan jalan yang baik. Karena mereka tidak tabah. “Siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Kor. 10:12)

(Renungan 1. p.218)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

RENUNGAN HARIAN PATER JULES CHEVALIER

Chevalier 2

01 APRIL

1874 Garcia Moren, Presiden Equator, menyurat ke Issoudun agar istrinya Mariana dan puteranya Gabriel, dicatat sebagai anggota persaudaraan Bunda Hati Kudus.
1912 Visitasi pertama Provinsi PBHK Australia oleh Sr. Valerie dan Sr. Therese Jean.

Surat Kepada Guyot, Penerimaan Misi Melanisia

Para rasul juga berkeberatan, waktu Yesus memesan mereka agar menurunkan jala mereka. Guru itu mendesak dan Petrus menyerah, dengan bimbang dan tanpa harapan: “Karena Engkau menyuruh-Nya, aku akan menebarkan jala juga (Luk. 5:5). Cerita selanjutnya menyatakan bahwa ketaatannya dibalas dengan limpah. Janganlah kita memprotes seperti Petrus. Pertimbangan manusiawi harus menghilang di hadapan kehendak Guru. Mari kita berserah diri sepenuh hati. Ketaatan kita kepad aAllah secara buta tetapi penuh keberanian, mustahil dijadikannya pohon kecelakaan. Pasti kita boleh mengharapkan dan akan memperoleh mukjizat perlindungan Ilahi. Percayalah.
Pater tahu beberapa karya kita telah dimulai dalam pertentangan yang lebih rumit lagi. Namun demikian berkat perkembangan peristiwa yang tentu diatur Tuhan, kita maju dan berhasil. Dewasa ini kita melihat bahwa Allah menuntun segala sesuatu. Sehingga kita merasa selamat dan beruntung. Pater yang baik, percayalah. Saya yakin bahwa masa depan akan membenarkan keputusan kita. Mari kita bersatu dalam pengharapan, dedikasi dan cita kasih. Kalau Pater tidak mau memikul tanggung jawab atas karya misi ini, hendaklah menyerahkan dirimu kepada kebijaksanaan superiormu. Berilah kepercayaan kepada saya dan saya akan menanggung semuanya. Saya pikir bahwa Pater tidak akan menyesalkannya.

(Issoudun 1.4.1881)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

bunga-mawar (1)

Selamat Ulang Tahun Sr. Yuliani Salewa (2 April).

Semoga semakin bijaksana dan setia dalam menjalani kehidupan setiap hari.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

membuat-rangkaian-bunga-segar-sederhana-11 (1)

 

Mohon maaf untuk saudari-saudari yang berulang tahun sesudah tanggal 8 Maret 2016. Karena kesalahan teknis makanya baru sekarang kami ucapkan selamat ulang tahun. Sekali lagi kami mohon maaf dan kami ucapkan selamat ulang tahun kepada:

1. Sr. M. Theresiana Sutiyah (12 Maret)

2. Sr. M. Bernardine Laratmase (13 Maret)

3. Sr. M. Theresia Lefteuw (14 Maret)

4. Sr. M. Dominique Sariyem (14 Maret)

5. Sr. M. Feralinda Wombonggo (16 Maret)

6. Sr. M. Albertha Sri Sunarni (16 Maret)

7. Sr. M. Bernadette Ensina Sidok (17 Maret)

Semoga tetap semangat dan setia dalam menjalani tugas perutusan setiap hari.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

RENUNGAN HARIAN PATER JULES CHEVALIER

Chevalier 2

28 MARET

1898 Dari tanggal 22 Maret sampai 6 April pelayaran P. Boismenu yang penuh bahaya dari P. Yule ke P. Thursday laut bergelora, layar-layar diturunkan; air memasuki kapal; nahkoda gelisah. Ia menulis pada tanggal 28 Maret “Malam yang dahsyat. Kami melewati karang batu itu jam dua tengah malam”.
1937 P.H. Keliner MSC (Jer) meninggal dalam tahanan di Cina.

Cinta Kepada Musuh
Kita tidak boleh menyimpan dendam terhadap musuh. Jika terluka oleh tingkahnya, bukan saja balas dendam dan kebencian dilarang, bahkan kita harus memaafkan: “Ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk. 6:37) Begitu ditetapkan Tuhan.
Memang Allah berhak membalas dengan keras dosa kejahatan dan kesalahan harian kita, tanpa ampun. Akan tetapi tidak demikian: Ia senantiasa penuh kebaikan dan kelembutan terhadap kita. Kita sendiri berlaku demikian pada mereka yang menentang kita? Acapkali terjadi kita tidak mau menyapa mereka, atau berbicara dengan mereka dengan wajah dingin dan kata-kata tuduhan.
Yesus memberi perintah bahwa kita harus mencintai musuh (Mat 5:44). Memang rasanya berat, akan tetapi harus, jika kita mau disebut murid-murid dan sahabat Hati Kudus.
Banyak orang Kristen bersalah dalam hal ini. Kata mereka: Saya tidak ingin dia rugi atau celaka; akan tetapi menengok atau menyapa dia, jangan harap. saya merasa terlalu tersinggung”. Kata dan perasaan demikian tidak kristiani.

Renungan 1, p.322-323)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

DOA KEPADA SANTO YUSUF

yusup1

Santo Yusuf, berilah kami cintamu agar dapat mencintai Hati Yesus seperti engkau mencintai-Nya. Berilah kami kesetiaanmu agar dapat memenuhi tugas perutusan kami. Semoga teladanmu mendorong kami untuk keheningan dan doa, dengan kepercayaan penuh kepada Allah serta hidup rohani yang mendalam, sehingga kami bersedia melayani sesama. Lindungilah kami dan seluruh Kongregasi dalam segala kebutuhan rohani maupun jasmani. Mohonkanlah bagi kami masing-masing, rahmat untuk menekuni panggilan kami dan kelak mati bahagia. Amin.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

Rangkaian-Bunga-Plastik-Red-Rose-BPR-14-300x205

Selamat Ulang Tahun:

1. Sr. M. Yermine Welerubun (6 Maret)

2. Sr. M. Yohana Futwembun (8 Maret)

3. Sr. M. Julia Lasol (8 Maret)

Semoga selalu bahagia dalam menjalani kehidupan setiap hari.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

2015-baru-1-pcs-merah-buatan-tulip-Bunga-pot-Tinggi-end-merangkai-bunga-dekorasi-pernikahan-Grosir

 

Selamat Ulang Tahun Sr. M. Hubertine Lamere PBHK (4 Maret)

Semoga selalu sehat, tetap semangat menebarkan jala kasih di Papua.

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Februari 2016 : 

pope francis
TIDAK PERNAH TERLALU TERLAMBAT UNTUK BERTOBAT
(http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/02/wejangan-paus-fransiskus-dalam-doa_28.html)
Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Setiap hari, sayangnya, surat kabar melaporkan berita-berita buruk : pembunuhan, kecelakaan, bencana … dalam perikop Injil hari ini, Yesus mengacu pada dua kejadian tragis zaman-Nya yang telah menyebabkan suatu kegemparan : penindasan kejam yang dilakukan oleh tentara Romawi di Bait Allah, dan runtuhnya menara Siloam di Yerusalem, yang telah mengakibatkan 18 orang tewas (bdk. Luk 13:1-5).

Yesus menyadari mentalitas takhayul para pendengar-Nya dan Ia tahu bahwa mereka secara keliru menafsirkan macam-macam peristiwa ini. Bahkan, mereka berpikir bahwa, jika orang-orang itu telah meninggal dengan cara demikian,dengan kejam, itu adalah tanda bahwa Allah telah menghukum mereka karena beberapa dosa besar yang telah mereka lakukan, seakan-akan mengatakan “mereka layak mendapatkannya&quot;. Dan di sisi lain , fakta diselamatkan dari aib seperti itu membuat mereka merasa “baik tentang diri mereka”. Mereka pantas mendapatkannya; saya baik-baik saja.

Yesus dengan jelas menolak pandangan ini, karena Allah tidak mengizinkan tragedi-tragedi untuk menghukum dosa-dosa, dan Ia menegaskan bahwa para korban yang malang ini tidak lebih buruk daripada yang lainnya. Sebaliknya, Ia mengajak para pendengar-Nya untuk menarik dari peristiwa-peristiwa yang menyedihkan ini sebuah ajaran yang berlaku untuk semua orang, karena kita semua adalah orang-orang berdosa; pada kenyataannya, Ia berkata kepada orang-orang yang telah menanyai-Nya, “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian!” (ayat 3).

Hari ini juga, melihat aib tertentu dan kejadian yang menyedihkan, kita dapat memiliki godaan untuk “mengunggah&quot; tanggung jawab pada para korban, atau bahkan pada Allah sendiri. Tetapi Injil mengajak kita untuk merenungkan : Apa gagasan tentang Allah yang kita miliki? Apakah kita benar-benar yakin bahwa Allah adalah seperti itu, atau bukankah itu hanya proyeksi kita, seorang Allah yang dibuat menurut “gambar dan rupa” kita?

Yesus, sebaliknya, mengajak kita mengubah hati, membuat peralihan yang radikal di jalan hidup kita, meninggalkan kompromi dengan kejahatan – dan itu adalah sesuatu yang kita semua lakukan, eh? kompromi dengan kejahatan, kemunafikan … Saya pikir hampir semua orang memiliki sedikit kemunafikan – dengan tegas mengambil kembali jalan Injil. Tetapi sekali lagi ada godaan untuk membenarkan diri kita sendiri. Dari apakah seharusnya kita bertobat? Bukankah kita pada dasarnya orang-orang yang baik? – Berapa kali kita memikirkan hal ini : “Bukankah aku pada dasarnya baik, aku adalah orang yang baik” … dan bukan seperti itu, eh? “Bukankah aku orang beriman dan bahkan cukup mengamalkannya?” Dan kita berpikir bahwa itulah bagaimana kita dibenarkan.

Sayangnya, masing-masing dari kita sangat menyerupai pohon itu, selama bertahun-tahun, telah berulang kali menunjukkan bahwa itu steril. Tapi, untungnya bagi kita, Yesus adalah seperti seorang petani yang, dengan kesabaran tak terbatas, masih memperoleh konsesi untuk anggur sia-sia. “Sir, biarkan selama tahun ini juga … mungkin berbuah di masa depan” (ayat 9).

Sayangnya, kita masing-masing sangat menyerupai pohon yang, selama bertahun-tahun, telah berulang kali menunjukkan bahwa ia mandul. Tetapi, untungnya bagi kita, Yesus adalah seperti seorang pengurus kebun anggur yang, dengan kesabaran yang tak terbatas, masih memberi kelonggaran bagi pohon ara yang tak berbuah. “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi ….
mungkin tahun depan ia berbuah” (ayat 8-9).

Suatu “tahun” rahmat : masa pelayanan Kristus, masa Gereja sebelum kedatangan-Nya kembali yang mulia, masa kehidupan kita, yang ditandai oleh sejumlah Masa Prapaskah, yang ditawarkan kepada kita sebagai kesempatan pertobatan dan keselamatan. Sebuah masa dari sebuah Tahun Yubileum Kerahiman. Kesabaran Yesus yang tiada taranya. Pernahkah kalian memikirkan kesabaran Allah? Pernahkah kalian memikirkan juga kepedulian-Nya yang tak terbatas bagi orang-orang berdosa? Bagaimana itu seharusnya membawa kita kepada ketidaksabaran dengan diri kita sendiri! Tidak pernah terlalu terlambat untuk bertobat. Tidak pernah. Hingga saat terakhir, kesabaran Allah menanti kita.

Ingatlah cerita pendek dari Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus, ketika ia mendoakan orang yang dihukum mati, seorang penjahat, yang tidak ingin menerima penghiburan Gereja. Ia menolak imam, ia tidak menginginkan [pengampunan], ia ingin mati seperti itu. Dan Santa Teresa berdoa, di dalam biara, dan ketika orang itu ada di sana, pada saat akan dieksekusi, ia berpaling kepada imam, mengambil salib dan menciumnya. Kesabaran Allah! Ia melakukan hal yang sama dengan kita, dengan kita semua. Berapa kali, kita tidak tahu – kita akan tahu di surga – tetapi berapa kali kita berada di sana, di sana, dan di sana, Tuhan menyelamatkan kita. Ia menyelamatkan kita karena Ia memiliki kesabaran dengan kita. Dan ini adalah kerahiman-Nya. Tidak pernah terlalu terlambat untuk bertobat, tetapi itu mendesak. Sekaranglah! Marilah kita mulai hari ini.

Perawan Maria menopang kita, sehingga kita bisa membuka hati kita terhadap rahmat Allah, terhadap kerahiman-Nya; dan ia membantu kita untuk tidak pernah menghakimi orang lain, melainkan membiarkan diri kita dilanda oleh kemalangan-kemalangan sehari-hari dan melakukan pemeriksaan sungguh-sungguh hati nurani kita dan bertobat.

[Setelah pendarasan Doa Malaikat Tuhan]

Saudara dan saudari terkasih,

Doa saya, dan juga doa-doa kalian yang tidak diragukan lagi, selalu mencakup situasi dramatis para pengungsi yang melarikan diri dari peperangan dan situasi-situasi tidak manusiawi lainnya. Secara khusus, Yunani dan negara-negara lain yang berada di garis depan, dengan murah hati sedang membantu mereka yang membutuhkan kerjasama dari seluruh bangsa. Tanggapan yang diselaraskan bisa menjadi efektif dan secara merata menyalurkan beban. Untuk ini, perlunya bergabung dengan negosiasi-negosiasi yang tegas dan tanpa syarat. Pada saat yang sama, saya telah menerima dengan harapan berita-berita tentang lenyapnya permusuhan di Suriah, dan saya mengajak semua orang untuk berdoa agar celah ini memungkinkan membawa bantuan bagi penduduk yang sedang menderita dan membuka jalan untuk dialog dan perdamaian yang begitu diinginkan.

Saya juga ingin meyakinkan kedekatan saya dengan orang-orang di Kepulauan Fiji, yang dengan kasar dilecut oleh badai yang menghancurkan. Saya mendoakan para korban dan mereka yang berkomitmen untuk pengerjaan bantuan.

Saya menawarkan ucapan ramah untuk semua peziarah dari Roma, dari Italia dan dari negara-negara lain.

Saya menyambut umat Gdansk, penduduk pribumi Biafra, para mahasiswa dari Zaragoza, Huelva, Cordoba dan Zafra, kaum muda Formentera dan umat Jaen.

Saya menyambut kelompok warga Polandia di Italia, umat Cascia, Desenzano del Garda, Vicenza, Castiglione d’Adda dan Rocca di Neto, serta banyak pemuda dari kamp San Gabriele dell’Addolorata, yang didampingi oleh para Bapa Pasionis, anak-anak dari Oratories Rho, Cornaredo dan Pero serta anak-anak dari Buccinasco, serta Sekolah Putri-putri Maria Yang Dikandung Tanpa Noda dari Padua.

Saya menyambut kelompok yang telah datang untuk memperingati “Hari Penyakit Langka” dengan doa khusus dan dorongan saya bagi lembaga-lembaga saling bantu kalian.

Saya mengharapkan kalian semua hari Minggu yang baik. Jangan lupa, tolong, doakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!
*****
(Peter Suriadi – Minggu, 28 Februari 2016)
__._,_.___

Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
« Older Entries Recent Entries »