Author Archives: admin

HAPPY BIRTHDAY

24f547cd44f1dc534665f236fcaa534b

Selamat Ulang Tahun:

1. Sr. M. Kanisia Sri Wahyuningsih (13 April)

2. Sr. M. Godeliva Elkel (15 April)

3. Sr. M. Helene Korompis (18 April)

4. Sr. M.Ursula Endang R. Parhusip (20 April)

5. Sr. M. Aurelia Nur Indah Puspasari (21 April)

6. Sr. M. Astrid Let-Let (22 April)

7. Sr. M. Rosa de Lima Kustinah (22 April)

9. Sr. M. Regina Pratiwi (01 Mei)

10. Sr. M. Antonetta Kaman (05 Mei)

11. Sr. M. Sylvia Patandean (05 Mei)

12. Sr. M. Matilda Kamamas (05 Mei)

Semoga senantiasa mengalami kasih Allah dalam kehidupan setiap hari.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrPinterestMySpaceShare

YOUR LOVE

Sacred Heart-18

 

Your Love by Michael G. Spence

Lord put your love between my
shoulder and my cross to help me bare the weightLord put your love between my heart
and my suffering to take some of the pain.

Lord put your love between my eyes
and your cross that I may not lose it’s sight.

Lord put your love between my tongue
and my enemy to remove it’s sting.

Lord put your love between my mouth
and my soul that I may forever your praises sing.

Lord put your love in my hand, that I
may use it to help my follow man.

Lord put your love in my soul
that I might enlighten the world.

 

 

 

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

ROSARIO MERAH PUTIH

DESAIN-LEFLET-DEPAN-SDH DICOMPRESSED

DESAIN-LEFLET-DALAM-SUDAH DI COMPRESSED

 

 

ROSARIO MERAH PUTIH

Rosario Merah Putih adalah salah satu penanda gerakan “Amalkan Pancasila” sesuai Arah Dasar 2016-2020 Keuskupan Agung Jakarta. Dinamakan Rosario Merah Putih karena:
1. Warna merah putih sangat impresif, dimaksudkan untuk mengingatkan kita pada Bendera Indonesia, Sang Saka Merah Putih. Merah berarti berani membela kebenaran karena Iman kepada Allah Bapa, Allah Putera dan Roh Kudus. Putih berarti suci, tulus dan murni karena Kasih Allah semata.
2. Terbuat dari butiran-butiran manik yang berwarna merah dan putih lengkap dengan medali Kerahiman Allah yang memerdekakan dan logo KAJ serta Salib khas KAJ.
Diharapkan Rosario Merah Putih mampu membangun kesadaran kita di dalam peziarahan ini untuk berdoa bersama Bunda Maria bagi keselamatan Bangsa dan Negara. Mengingatkan kita untuk semakin 100% Katolik 100% Indonesia. Berdoa Rosario Merah Putih juga menjadi salah satu ungkapan cinta umat beriman kepada tanah air dan tanda kepedulian kita untuk terus-menerus amalkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai sebuah gerakan, dianjurkan untuk membuat sendiri Rosario Merah Putih bersama keluarga/lingkungan/komunitas. Selain sebagai bagian dari ungkapan devosional kita kepada Bunda Maria, aktivitas membuat Rosario Merah Putih juga dapat mengakrabkan kita satu sama lain, terutama antar-anggota keluarga sebagaimana yang diharapkan dalam Target (point 1.3) Rencana Strategis Arah Dasar 2016-2020. Selain digunakan sendiri, Kita pun dapat membagikan Rosario Merah Putih yang kita buat kepada mereka yang membutuhkan.
Berdoa dengan menggunakan Rosario Merah Putih sama seperti berdoa Rosario pada umumnya. Intensi doa saja yang perlu ditambahkan untuk Bangsa dan Negara. Ada lima intensi yang terbagi ke dalam setiap peristiwa. Apapun peristiwanya, silakan mendoakan intensi ini:
1.Peristiwa Pertama untuk kebahagiaan kekal jiwa-jiwa para pahlawan,
2. Peristiwa Kedua untuk keutuhan alam Indonesia yang kaya dan subur.
3. Peristiwa Ketiga untuk persatuan Indonesia.
4. Peristiwa Keempat untuk kebijaksanaan para Pemimpin kita.
5. Peristiwa Kelima untuk upaya-upaya mewujudkan keadilan sosial.
Diucapkan dan dimohonkan setelah merenungkan peristiwa. Dilanjutkan dengan doa “Bapa Kami” dan 10x doa “Salam Maria”. Intensi doa dapat dilihat pada lembaran ini. Terdiri dari doa anak, doa remaja dan doa umum.
Rosario Merah Putih: bergemalah!

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

1737987ko4qsk6aim

 

Selamat Ulang Tahun kami ucapkan kepada:

1. Sr. M. Claudia Surtilah (04 April)

2. Sr. M. Martina Fanumby (06 April)

3. Sr. M. Benedicta Ratih Puspa (08 April)

4. Sr. M. Dyonisia Titik Suprapti (10 April)

5. Sr. M. Celestina Welerubun (11 April)

6. Sr. M. Regina Tawurutubun (12 April)

7. Sr. M. Sara Heatubun (12 April)

8. Sr. M. Victoria Moiwend (12 April)

Semoga selalu mengalami kasih Allah dalam menjalani kehidupan setiap hari sehingga senantiasa setia di jalan panggilan.

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Maret 2016

pope francis

ALLAH LEBIH BESAR DARIPADA DOSA-DOSA KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita menyelesaikan katekese tentang kerahiman dalam Perjanjian Lama, dan kita melakukannya dengan merenungkan Mazmur 51, yang dikenal sebagai Miserere. Ini adalah sebuah doa pertobatan yang di dalamnya permintaan akan pengampunan didahului oleh pengakuan kesalahan yang di dalamnya Pemazmur, memungkinkan dirinya dimurnikan oleh kasih Tuhan, menjadi ciptaan baru, yang mampu taat, mampu teguh dalam roh dan mampu memuji dengan tulus.

“Gelar” yang diberikan oleh tradisi Yahudi kuno pada Mazmur ini mengacu kepada Raja Daud dan dosanya dengan Batsyeba, istri Uria, orang Het. Kita tahu dengan baik perselingkuhan tersebut. Raja Daud, yang dipanggil oleh Allah untuk menggembalakan kepada umat-Nya dan memimpin mereka di jalan ketaatan kepada Hukum Ilahi, mengkhianati perutusannya dan, setelah berzinah dengan Batsyeba, menginginkan suaminya dibunuh. Dosa yang mengerikan! Nabi Natan mengungkapkan kesalahannya kepadanya dan membantu dia untuk mengakuinya. Ini adalah saat pendamaian dengan Allah, dalam pengakuan akan dosanya. Dan di sini Daud rendah hati; ia luar biasa! Barangsiapa berdoa dengan Mazmur ini diundang untuk memiliki perasaan-perasaan pertobatan yang sama dan percaya kepada Allah seperti yang dilakukan Daud, ketika ia bertobat dan, meskipun merupakan Raja, merendahkan dirinya, tanpa takut mengakui kesalahannya dan menunjukkan penderitaannya kepada Tuhan, namun yakin akan kepastian kerahiman-Nya. Dan apa yang ia lakukan bukanlah dosa kecil, kebohongan kecil : ia telah melakukan perzinahan dan pembunuhan!

Mazmur dimulai dengan kata-kata permohonan ini :

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (ayat 3-4)

Doa permohonan yang ditujukan kepada Allah kerahiman karena, tergerak oleh kasih yang besar seperti kasih seorang ayah atau seorang ibu, Ia memiliki belas kasih, yaitu, Ia menganugerahkan rahmat, menunjukkan kebaikan-Nya dengan kebajikan dan pemahaman. Ini adalah seruan patah hati kepada Allah, satu-satunya yang bisa membebaskan dari dosa. Gambar yang sangat mudah dibentuk digunakan : hapuskanlah, bersihkanlah aku, tahirkanlah aku. Kebutuhan nyata manusia diwujudkan dalam doa ini : satu-satunya hal yang kita benar-benar butuhkan dalam hidup kita adalah diampuni, dibebaskan dari kejahatan dan konsekuensi-konsekuensi kematiannya. Sayangnya, kehidupan sering membuat kita mengalami situasi-situasi ini dan, di dalamnya, kita pertama-tama harus percaya dalam kerahiman. Allah lebih daripada dosa kita. Marilah kita tidak melupakan hal ini : Allah lebih besar daripada dosa kita! “Bapa, saya tidak tahu bagaimana mengatakannya, saya telah melakukan begitu banyak <dosa>!” Allah lebih besar daripada semua dosa yang bisa kita lakukan. Allah lebih besar daripada dosa kita. Maukah kita mengatakannya bersama-sama? Semua bersama-sama : “Allah lebih besar daripada dosa kita!” Sekali lagi : “Allah lebih besar daripada dosa kita!” Dan kasih-Nya adalah sebuah lautan yang di dalamnya kita dapat membenamkan diri tanpa takut terbebani : bagi Allah, mengampuni berarti memberi kita kepastian bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu (bdk. 1 Yoh 3:20), karena Allah lebih besar daripada dosa kita.

Dalam hubungan ini, siapa pun yang berdoa dengan Mazmur ini mencari pengampunan, mengakui kesalahannya, tetapi, ia mengakuinya, ia merayakan keadilan dan kekudusan Allah. Dan kemudian, ia meminta rahmat dan kerahiman lagi. Pemazmur dipercayakan dirinya kepada kebaikan Allah; ia tahu bahwa pengampunan ilahi sangat efektif, karena ia menciptakan apa yang tak terkatakan. Dosa tidak tersembunyi, tetapi dihancurkan dan dihapuskan; tetapi, pada kenyataannya ia dihapuskan dari akarnya, tidak seperti yang mereka lakukan di binatu, ketika kita mengambil pakaian yang memiliki noda dihapuskan. Tidak! Allah menghapus dosa kita pada kenyataannya dari akar, semuanya! Oleh karena itu, peniten menjadi murni lagi, setiap noda dihilangkan dan ia sekarang lebih putih dari salju yang tidak terkotori. Kita semua orang-orang berdosa. Apakah ini benar? Jika salah satu dari kalian tidak tahu dirinya orang berdosa, biarkanlah dia mengangkat tangannya … Tak seorang pun! Kita semua demikian. Dengan pengampunan, kita orang-orang berdosa menjadi ciptaan-ciptaan baru, penuh sekali dengan Roh dan penuh akan sukacita. Sekarang kenyataan baru dimulai bagi kita: hati yang baru, semangat yang baru, kehidupan yang baru. Kita, orang-orang berdosa yang diampuni, yang menerima rahmat ilahi, juga bisa mengajar orang lain untuk tidak berbuat dosa lagi. “Tetapi Bapa, aku lemah, aku jatuh, jatuh”. “Tetapi jika kalian jatuh, bangkitlah! Bangkitlah Naik! “Ketika seorang anak jatuh, apa yang ia lakukan? Ia mengangkat tangannya kepada ibunya, kepada ayahnya, sehingga ia dibantu untuk bangun. Kita harus melakukan hal yang sama! Jika kalian jatuh ke dalam dosa kelemahan, angkatlah tangan kalian. Tuhan akan mengambilnya dan membantu kalian bangkit. Ini adalah martabat pengampunan Allah. Martabat yang diberikan pengampunan Allah kepada kita adalah martabat kebangkitan, berdiri selalu, karena Ia menciptakan pria dan wanita untuk berdiri.

Pemazmur mengatakan

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! ….. aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (ayat 12.15).

Saudara dan saudari terkasih, kita semua membutuhkan pengampunan Allah, dan itu adalah tanda terbesar kerahiman-Nya – karunia agar setiap orang berdosa yang diampuni dipanggil untuk berbagi dengan setiap saudara atau saudari yang ia jumpai. Semua orang yang telah ditempatkan Tuhan di samping kita, para kerabat, para sahabat, kolega, umat paroki … semuanya, seperti kita, membutuhkan kerahiman Allah. Menyenangkannya diampuni, tetapi kalian juga, jika kalian ingin diampuni, ampunilah pada gilirannya. Ampunilah! Semoga Tuhan menganugerahkan kita, melalui perantaraan Maria, Bunda Kerahiman, menjadi saksi-saksi pengampunan-Nya, yang membersihkan hati dan mengubah hidup kita. Terima kasih.

[Sambutan kepada para peziarah berbahasa Italia]

Dalam sukacita khas Kebangkitan, pikiran saya tertuju kepada para Diakon Serikat Yesus yang terkasih, yang disertai oleh para Pemimpin dan kerabat mereka, dan itu adalah harapan saya yang tulus agar peziarahan Yubileum kalian kaya dalam buah-buah rohani untuk kepentingan seluruh Serikat. Saya merangkul kalian secara rohani, remaja laki-laki dan remaja perempuan tercinta dari berbagai dekenat, paroki dan rumah doa Keuskupan Agung Milan, serta umat Keuskupan Cremona, pada kesempatan Pengakuan Iman kalian. Kepada kalian dan kepada seluruh orang sebaya kalian, khususnya para mahasiswa Sekolah Tinggi Keuskupan Ravenna-Cervia, saya berharap agar kalian dapat menghayati dalam kepenuhan pesan Paskah, selalu setia pada Baptisan kalian dan saksi-saksi yang penuh sukacita dari Kristus yang mati dan bangkit untuk kita.

Saya menyambut Misionaris Fransiskan Suster-suster Maria, di akhir Bab Umum mereka; dan umat Paroki Sakramen Mahakudus Bari, pada kesempatan seratus tahun berdirinya. Ini adalah keinginan tulus saya agar kunjungan kalian ke Roma bagi kalian semua merupakan kesempatan pembaharuan rohani.

Pemikiran penuh kasih sayang tertuju kepada kalian, orang-orang sakit yang terkasih, yang kepadanya saya menasihatkan untuk memandang terus kepada-Nya, yang mengalahkan maut dan yang membantu kita menerima penderitaan sebagai kesempatan berharga penebusan dan keselamatan. Akhirnya, saya mengundang kalian, para pengantin baru yang terkasih, untuk menghayati pengalaman keluarga kalian sehari-hari dengan tatapan kalian berpaling kepada Kristus yang bangkit, yang pada hari Paskah dikurbankan bagi kita.

[Sambutan kepada para peziarah berbahasa Inggris]

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita untuk Tahun Suci Kerahiman ini, kita sekarang mengakhiri perlakuan kita dari Perjanjian Lama dengan mempertimbangkan Mazmur 51, Miserere. Mazmur ini secara tradisional dipandang sebagai doa Raja Daud untuk pengampunan setelah dosanya dengan Batsyeba. Kata-kata pembukaannya : “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu”, adalah sebuah pengakuan dosa yang bergerak, pertobatan dan harapan yang meyakinkan dalam pengampunan Allah yang penuh kerahiman. Bersama-sama dengan permohonan yang tulus untuk dibersihkan dan ditahirkan dari dosanya, pemazmur menyanyikan pujian akan keadilan dan kekudusan Allah yang tak terbatas. Ia memohon pengampunan akan dosanya yang besar, tetapi juga karunia hati yang murni dan semangat yang teguh, sehingga, dengan demikian diperbarui, ia bisa menarik orang-orang berdosa lainnya kembali ke jalan kebenaran. Pengampunan Allah adalah tanda terbesar kerahiman-Nya yang tak terbatas. Melalui doa-doa Maria, Bunda Kerahiman, semoga kita menjadi saksi-saksi yang lebih meyakinkan terhadap kerahiman ilahi yang mengampuni dosa-dosa kita, menciptakan di dalam diri kita hati yang baru, dan memungkinkan kita untuk memberitakan kasih Allah yang mendamaikan kepada dunia.

[Penutup]

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, termasuk dari Inggris, Irlandia, Norwegia, Nigeria, Australia, Indonesia, Pakistan dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Tuhan yang bangkit, saya memohonkan atas kalian dan keluarga-keluarga kalian kerahiman yang mencintai dari Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkati kalian semua!

(Peter Suriadi – Bogor, 30 Maret 2016)

(http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/03/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_30.html)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

MENAMBAH PENGETAHUAN

foto_ayah_dan_anak_mirip-20150724-003-rita

Mencoba memahami Sabda Tuhan:

Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. (Injil Yohanes 20: 29)

Secara manusiawi ada tahapan untuk kepercayaan. Dan kepercayaan adalah bagian dari keutuhan manusia.

Bina Iman Anak dan Remaja melalui tahapan :

sumber

http://kutikata.blogspot.co.id/2009/09/tahap-perkembangan-kepercayaan.html

Tahap Perkembangan Kepercayaan
Sari Pemikiran James W. Fowler dalam “Teori Perkembangan Kepercayaan: Karya-karya Penting James W. Fowler”, Editor. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1995

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Satu Manusia sebagai Pemberi Makna
James W. Fowler mengembangkan suatu teori yang disebutnya “Faith Development Theory”. Teorinya ini lebih menjurus pada psikologi agama. Namun pendekatannya ini membantu kita dalam memahami tahapan perkembangan percaya seorang manusia dan satu komunitas. Atau membantu dalam memahami alasan-alasan mengapa dan bagaimana seorang menjadi percaya atau beragama.

Beragama bagi Fowler adalah bagian dari proses mencari makna, sebab itu menurutnya manusia adalah meaning maker (pemberi arti). Manusia adalah subyek yang bermakna dan memberi/menciptakan makna pada sesuatu atau pada iman (faith), dan kepercayaan (belief)/agama. Proses memberi makna itu yang memperlihatkan bahwa manusialah yang menyusun suatu penjelasan terhadap berbagai pengertian yang semula tidak tersusun secara rapi. Fenomena-fenomena percaya awal adalah suatu susunan pemikiran dan pengertian yang ‘talamburang’ (tidak teratur, ajeg). Manusialah yang menyusunnya. Dalam proses penyusunan itu manusia juga yang mencari sesuatu material/simbol (sign) yang sinonim atau bisa merepresentasi hal yang dipercayainya itu. Karena itu menjadi percaya, atau iman adalah juga suatu proses semantik yang dibuat oleh manusia.

Rupanya Fowler tidak mau terlalu dipusingkan dengan hal-hal semantik itu seperti halnya para antropolog agama seperti E.B. Tylor (di masa Klasik) atau Ruth Benedict dan Fiona Bowie (di masa modern).

Sederhananya bagi Fowler ialah bahwa faith dimengertinya sebagai sesuatu yang luas dari sekedar ‘kepercayaan’ (belief), walau keduanya sinonim dengan ‘tindak pengartian’ (upaya memberi arti/menjelaskan). Sebab kepercayaan menyangkut mental untuk menciptakan, memelihara dan mentransformasi arti. Hasilnya adalah apa yang disebutnya sebagai ‘kepercayaan eksistensial’.

Kepercayaan eksistensial itu sendiri menurutnya merupakan suatu kegiatan relasional, artinya ‘berada-dalam-relasi-dengan-sesuatu’. Maka kepercayaan eksistensial diawali oleh ‘rasa percaya’ (yun. Pisteuo = saya percaya dalam arti bahwa saya menyerahkan diri seluruhnya dan mengandalkan engkau).

Hal itu berarti:
Pertama, kepercayaan sebagai cara seorang pribadi (atau kelompok) melihat hubungannya dengan orang lain, dengan siapa ia merasa diri bersatu berdasarkan latar belakang sejumlah tujuan dan pengartian yang dimiliki bersama.

Ini menjurus pada adanya suatu ajaran yang membentuk ranah kognisi dalam hal menjadi percaya. Tetapi juga suatu sistem praktek yang membentuk ranah afeksi dan motorik.
Kedua, kepercayaan sebagai cara tertentu, dengan mana pribadi menafsirkan dan menjelaskan seluruh peristiwa dan pengalaman yang berlangsung dalam segala lapangan daya kehidupannya yang majemuk dan kompleks.

Aktifitas menafsir (interpretation) dan menjelaskan (clarification, verstehen) di sini mengamanatkan bahwa kepercayaan adalah bagian dari suatu hermeneutika kehidupan, yang terkait bukan dengan dokumen-dokumen kudus yang turut menyusun dogma agama melainkan dokumen-dokumen kehidupan yang selalu dijumpai manusia dalam pengalaman nyata di masyarakat/dunianya.

Ketiga, kepercayaan sebagai cara pribadi melihat seluruh nilai dan kekuatan yang merupakan realitas paling akhir dan pasti bagi diri dan sesamanya. Di sini ditentukan mana ‘gambaran penuntun’ mengenai yang ultim yang akhirnya dapat menggerakkan dan menjadi acuan hidup kita.

Pada sisi ini muncul seperangkat etika dalam agama, serta ajaran mengenai Tuhan sebagai yang ultim.

Dua Fides quae creditur, Fides qua creditur

Untuk merinci isi dari kepercayaan itu, Fowler membedakan antara fides quae creditur, yaitu substansi dan isi kognisi dari hal yang dipercayai, dan fides qua creditur yakni cara kita percaya akan hal tersebut.
Dengan demikian kepercayaan selalu ada dalam dialektika antara ajaran untuk menjadi percaya dan cara/praktek menjadi percaya. Apa yang disebut percaya tidak sekedar menerima secara taken for granted tetapi belajar secara kritis melalui praksis. Sebab apa yang menjadi isi kognisi (ajaran) sesungguhnya adalah kumulasi dari apa yang dialami dalam hidup sehari-hari.
Beberapa teolog lain seperti John B. Cobb, jr, menunjukkan bahwa hal menjadi percaya baru datang pada saat manusia melakoni aktitifitas sehari-hari (dailiy activity). Maka kepercayaan juga ditentukan oleh aktifitas dan peran sosial/tanggungjawab.

Tiga Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan

Tahap 0: Kepercayaan Elementer Awal
(Primal Faith)
Tahap ini timbul sebagai Tahap 0 (nol) atau Pratahap (pre-stage, yaitu masa orok, bayi, 0 sampai 2 atau 3 tahun). Kepercayaan ini disebut juga pratahap “kepercayaan yang belum terdiferensiasi (undifferentiated faith), karena: (a) ciri disposisi praverbal si bayi terhadap lingkungannya yang belum dirasakan dan disadari sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari dirinya, dan (b) daya-daya seperti kepercayaan dasar, keberanian, harapan dan cinta (serta daya-daya lawannya) belum dibedakan lewat proses pertumbuhan, melainkan masih saling tercampur satu ama lain dalam suatu keadaan kesatuan yang samar-samar. Rasa percaya elementer ini bersifat pralinguistis (sebelum tumbuh kemampuan membahasa), praverbal, dan prakonseptual.

Tahap 1: Kepercayaan Intuitif-Proyektif
(Intuitive-Projective Faith)
Pola eksistensial yang intuitif-proyektif menandai tahap perkembangan pertama (umur 3-7 tahun) karena daya imajinasi dan dunia gambaran sangat berkembang. Apa yang dialami di Tahap 0 (nol) menjadi hal yang sangat berarti dalam Tahap 1. Dunia pengalaman sudah mulai disusun melalui seperangkat pengalaman inderawi dan kesan-kesan emosional yang kuar. Namun kesan-kesan itu diangkat ke dalam alam imajinasi. Walau demikian pada tahap ini anak sudah mulai peka terhadap dunia misteri dan Yang Ilagi serta tanda-tanda nyata kekuasaan.

Tahap 2: Kepercayaan Mitis-Harfiah
(Mithic-Literal Faith)
Bentuk kepercayaan ini muncul sebagai tahap kedua (umur 7-12 tahun). Di sini mulai bertumbuh operasi-operasi logis terhadap pengalaman imajinatif di Tahap 1. Operasi-operasi logis itu mulai bersifat konkret, dan mengarah pada adanya kategori sebab-akibat. Di sini anak berusaha melepaskan diri dari skiap egosentrismenya, mulai membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif orang lain, serta memperluas pandangannya dengan mengambil alih pandangan (perspektif) orang lain. Kemampuan untuk menguji dan memeriksa perspektifnya sudah mulai tersusun baik, walau pada tingkat moral anak belum bisa menyusun dunia batin seperti perasaan, sikap dan proses penuntun batiniah yang dimilikinya sendiri.

Tahap 3: Kepercayaan Sintetis-Konvensional
(Synthetic-Conventional Faith)
Tahap ini muncul pada masa adolesen (umur 12-20 tahun). Di sini muncul kemampuan kognitif baru, yaitu operasi-operasi formal, maka remaja mulai mengambil alih pandangan pribadi rang lain menurut pola pengambilan perspektif antar-pribadi secara timbal balik. Di sini sudah ada kemampuan menyusun gambaran percaya pada person tertentu, termasuk person yang Ilahi.

Tahap 4: Kepercayaan Individuatif-Reflektif
(Individuative-Reflective Faith)
Tahap ini muncul pada umur 20 tahun ke atas (awal masa dewasa). Pola ini ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan, dan nilai (religius) lama. Pribadi sudah mampu melihat diri sendiri dan orang lain sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan, tetapi juga yakin bahwa dia sendirilah yang memikul tanggungjawab atas penentuan pilihan ideologis dan gaya hidup yang membuka jalan baginya untuk mengikatkan diri dengan cara menunjukkan kesetiaan pada seluruh hubungan dan pangilan tugas. Disebut ‘individuatif’ karena baru saat inilah manusia tidak semata-mata bergantung pada orang lain, tetapi dengan kesanggupannya sendiri mampu mengadakan dialog antara berbaagai ‘diri; sebagaimana dilihat dan dipantulkan orang-orang dengan ‘diri sejati’ yang hanya dikenal oleh pribadi yang bersangkutan itu sendiri. Manusia mengalami dirinya sebagai yang khas, unik, aktif, kritis, kreatif penuh daya.

Tahap 5: Kepercayaan Eksistensial Konjungtif
(Conjunctive Faith)
Kepercayaan eksistensial konjungtif timbul pada masa usia pertengahan (sekitar umur 35 tahun ke atas). Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kebenaran hanya akan dicapai melalui dialektika, karena sadar bahwa manusia memerlukan suatu tafsiran yang majemuk.
Di sini beragama dan kepercayaan juga dibayang-bayangi oleh simbol, metafora, cerita, mitos, dll yang memerlukan penafsiran kembali.

Tahap 6: Kepercayaan Eksistensial yang Mengacu pada Universalitas
(Universalizing Faith)
Kepercayaan ini berkembang pada umur 45 tahun ke atas. Pribadi melampaui tingkatan paradoks dan polaritas, karena gaya hidupnya langsung berakat pada kesatuan dengan Yang Ultim, yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Pribadi sudah berhasil melepaskan diri (kenosis) dari egonya dan dari pandangan bahwa ego adalah pusat, titik acuan, dan tolok ukur kehidupan yang mutlak. Perjuangan akan kebenaran, keadilan, dan kesatuan sejati berdasarkan semangat cinta universal ini secara antisipatif menjelmakan daya dan dinamika Kerajaan Allah sebagai persekutuan cinta dan kesetiakawanan antara segala sesuatu yang ada.

sumber

https://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_agama#Pertumbuhan_Agama_pada_Masa_Anak-Anak

Perkembangan Individu terhadap agama menurut Zakiah Darajat:
Tahap Usia Penjelasan
Tahap I Kanak-kanak 0-6 tahun Pendidikan agama pada umur ini mulai semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilihatnya, maupun perlakuan yang dilakukannya.[11]
Tahap II Pra Remaja 7-12 tahun Ketika anak masuk sekolah dasar, dalam jiwanya ia telah membawa bekal rasa agama yang terdapat dalam kepribadiannya, dari orang tuanya dan dari gurunya ditaman kanak-kanak.[11]
Tahap III Remaja
13-16 tahun Perasaan kepada Tuhan tergantung kepada perubahan emosi yang sedang dialami. kadang-kadang ia sangat membutuhkan Tuhan, kadang-kadang ia kurang membutuhkan Tuhan.[11]
Tahap IV Remaja Akhir 17-21 tahun Kecerdasan remaja telah sampai kepada menuntut agar ajaran agama yang ia terima masuk akal, dapat dipahami dan dijelaskan secara ilmiah dan rasional, namun perasaan masih memegang peran penting dalam sikap dan tindakan agama remaja.[11]
Anak-anak mengenal Tuhan, melalui bahasa.[11]Dari kata-kata orang yang ada pada lingkungannyam yang pada permulaan diterimanya secara acuh tak acuh saja.[11]
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan).[1] Dalam bukunya yang berjudul The Development of Religion on Childern, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu:[1]
• The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun.[1]Pada tingkat ini konsep mengenal Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.[1] Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.[1]
• The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar.[1] Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang mendasar kepada kenyataan (realita).[1]
• The Individual Stage (Tingkat Individual)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosional yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.[1]

Diambil dari group formator
Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

RENUNGAN HARIAN PATER JULES CHEVALIER

Chevalier 2`

02 APRIL

1867 Seminari Issoudun menerima murid yang pertama Lucien Cattin. Ia membawa uang asrama 588 gobang, sumbangan dari 588 orang (dikemudian hari ia menjadi misionaris Yesuit).

Takutilah Musuh Dari Dalam

Musuh yang paling berbahaya dan harus ditakuti, bukan dari luar, melainkan dari diri kita sendiri. Kodrat kita adalah sarang keinginan yang meradang, yang merupakan godaan.
Hawa nafsu yang melimpah dalam hati kita, kebiasaan-kebiasaan yang jahat inilah penghalang-penghalang keselamatan kita.
Betapa banyak orang Kristen, imam, biarawan yang dahulu penuh semangat bernyala-nyala, lama-kelamaan menjadi lesu dan meninggalkan jalan yang baik. Karena mereka tidak tabah. “Siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Kor. 10:12)

(Renungan 1. p.218)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

RENUNGAN HARIAN PATER JULES CHEVALIER

Chevalier 2

01 APRIL

1874 Garcia Moren, Presiden Equator, menyurat ke Issoudun agar istrinya Mariana dan puteranya Gabriel, dicatat sebagai anggota persaudaraan Bunda Hati Kudus.
1912 Visitasi pertama Provinsi PBHK Australia oleh Sr. Valerie dan Sr. Therese Jean.

Surat Kepada Guyot, Penerimaan Misi Melanisia

Para rasul juga berkeberatan, waktu Yesus memesan mereka agar menurunkan jala mereka. Guru itu mendesak dan Petrus menyerah, dengan bimbang dan tanpa harapan: “Karena Engkau menyuruh-Nya, aku akan menebarkan jala juga (Luk. 5:5). Cerita selanjutnya menyatakan bahwa ketaatannya dibalas dengan limpah. Janganlah kita memprotes seperti Petrus. Pertimbangan manusiawi harus menghilang di hadapan kehendak Guru. Mari kita berserah diri sepenuh hati. Ketaatan kita kepad aAllah secara buta tetapi penuh keberanian, mustahil dijadikannya pohon kecelakaan. Pasti kita boleh mengharapkan dan akan memperoleh mukjizat perlindungan Ilahi. Percayalah.
Pater tahu beberapa karya kita telah dimulai dalam pertentangan yang lebih rumit lagi. Namun demikian berkat perkembangan peristiwa yang tentu diatur Tuhan, kita maju dan berhasil. Dewasa ini kita melihat bahwa Allah menuntun segala sesuatu. Sehingga kita merasa selamat dan beruntung. Pater yang baik, percayalah. Saya yakin bahwa masa depan akan membenarkan keputusan kita. Mari kita bersatu dalam pengharapan, dedikasi dan cita kasih. Kalau Pater tidak mau memikul tanggung jawab atas karya misi ini, hendaklah menyerahkan dirimu kepada kebijaksanaan superiormu. Berilah kepercayaan kepada saya dan saya akan menanggung semuanya. Saya pikir bahwa Pater tidak akan menyesalkannya.

(Issoudun 1.4.1881)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

bunga-mawar (1)

Selamat Ulang Tahun Sr. Yuliani Salewa (2 April).

Semoga semakin bijaksana dan setia dalam menjalani kehidupan setiap hari.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

membuat-rangkaian-bunga-segar-sederhana-11 (1)

 

Mohon maaf untuk saudari-saudari yang berulang tahun sesudah tanggal 8 Maret 2016. Karena kesalahan teknis makanya baru sekarang kami ucapkan selamat ulang tahun. Sekali lagi kami mohon maaf dan kami ucapkan selamat ulang tahun kepada:

1. Sr. M. Theresiana Sutiyah (12 Maret)

2. Sr. M. Bernardine Laratmase (13 Maret)

3. Sr. M. Theresia Lefteuw (14 Maret)

4. Sr. M. Dominique Sariyem (14 Maret)

5. Sr. M. Feralinda Wombonggo (16 Maret)

6. Sr. M. Albertha Sri Sunarni (16 Maret)

7. Sr. M. Bernadette Ensina Sidok (17 Maret)

Semoga tetap semangat dan setia dalam menjalani tugas perutusan setiap hari.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
« Older Entries Recent Entries »