Category Archives: From us to us

TES KEPRIBADIAN BERDASAR GOLONGAN DARAH

Jenis-jenis-Golongan-darah

LENSAINDONESIA.COM: Darah manusia dibagi menjadi 4 golongan yaitu ; A, B, O dan AB. Keempat golongan tersebut memiliki keunikan dan karakteristik masing-masing. Seperti dilansir sciencedaily, Jepang lantas melakukan penelitian untuk mengetahui lebih dalam mengenai sifat keempat golongan darah manusia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa sifat golongan darah sebagai berikut:

GOLONGAN DARAH A
Orang-orang dengan golongan darah A di percaya memiliki sifat terorganisir, konsisten, sangat mudah bekerja sama tapi selalu cemas (terlalu perfeksionis) sehingga mudah membuat orang lain tidak suka.
Mereka juga diketahui memiliki ketenangan saat situasi kritis bahkan saat semua orang panik. Namun, mereka cenderung menghindari konfrontasi dan tidak nyaman di dekat orang yang tidak cocok.
Golongan darah A yang pemalu, cenderung sangat sopan. Tapi semua orang dengan golongan darah A memiliki kesamaan yaitu tidak pernah benar-benar merasa cocok dengan orang lain. Mereka sangat bertanggung jawab. Jika ada pekerjaan yang harus dilakukan, mereka lebih memilih untuk mengurus sendiri. Mereka termasuk orang-orang mendambakan kesuksesan dan perfeksionis.
Orang-orang bergolongan darah A juga sangat kreatif dan paling artistik dari semua tipe darah. Kemungkinan besar karena sensitivitas mereka. Orang dengan golongan darah A juga dianggap klasik karena mudah stres.
a.  Berkepala dingin, serius, sabar dan tenang.
b.  Mempunyai karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya tetapi keras kepala.
c. Sebelum melakukan sesuatu orang bergolongan darah A biasanya memikirkannya        terlebih dahulu dan mempunyai perencanaan yang matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten.
d. Berusaha membuat diri mereka sewajar dan seideal mungkin.
e. Bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.
f. Mencoba menekan perasaan mereka dan kelihatan tegar. Walaupun sebenarnya mereka mempunyai sisi yang lemah seperti gugup dan lain sebagainya.
g. Cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang bertemperamen sama.

GOLONGAN DARAH B
Orang dengan darah tipe B berkarakter paling santai. Mereka cenderung kurang kooperatif karena lebih suka mengikuti aturan dan ide-ide mereka sendiri. Mereka adalah individualis. Memperhatikan pikiran mereka lebih sedikit daripada perasaan mereka.Oleh sebab itu terkadang tampak dingin dan serius. Orang dengan darah tipe B sering dianggap tidak konvensional daripada jenis golongan darah lainnya.
a. Pemilik golongan darah B ini suka penasaran dan tertarik terhadap segala hal baru.
b. Mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobi. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.
c. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.
d. Ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal dan tidak mau hanya dianggap rata-rata. Cenderung melalaikan lain hal jika sedang terfokus pada satu hal. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan alias kurang bisa multi-tasking.
e. Terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias dari luar tetapi sebenarnya semuanya ternyata sama sekali berbeda dengan yang ada di dalam diri mereka.

GOLONGAN DARAH O
Orang dengan golongan darah O orang yang terbuka, enerjik dan sosial. Mereka yang paling fleksibel dibandingkan dengan semua golongan darah.
Mereka mudah memulai proyek tetapi sering mengalami kesulitan berikutnya karena mereka mudah menyerah. Mereka bertingkah dan tidak terlalu dapat diandalkan. Golongan darah O selalu mengatakan apa yang ada di pikiran mereka.
Mereka menghargai pendapat orang lain dan suka menjadi pusat perhatian. Juga, orang dengan darah O sangat percaya diri.
a. Golongan darah O biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup dan berperan dalam menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut. Biasanya mereka berjiwa leadership sebagai seorang pemimpin.
b. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang
c. Apabila kesal terhadap seseorang, mereka susah marah terhadap orangnya langsung.
d. Biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.
e. Disukai oleh semua orang meski keras kepala dan secara rahasia mempunyai                 pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.
f.  Di lain pihak, mereka sangat fleksibel dan gampang menerima hal-hal yang baru.
g.  Gampang di pengaruhi oleh orang lain dan lingkungan.
h. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati.

GOLONGAN DARAH AB
Orang dengan golongan darah AB sulit diprediksi. Mereka dapat memiliki karakteristik di kedua ujung spektrum pada waktu yang sama. Misalnya, mereka bisa pemalu dan bisa tiba-tiba sebaliknya. Mereka dengan mudah beralih dari satu berlawanan dengan yang lain.
Orang yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab, tetapi tidak dapat menangani terlalu banyak. Mereka tidak keberatan membantu asalkan kondisi mereka sendiri mampu. Orang dengan tipe darah ini tertarik dalam seni dan metafisika.
AB dianggap sebagai tipe darah terburuk di Jepang. Mereka hengkang dari pekerjaan ketika terdapat hal-hal tidak memenuhi harapan mereka. Dikenal sensitif dan ingin mendapat perhatian untuk mengimbangi kekurangan dari jenis darahnya.
Dalam beberapa kasus, sejumlah perusahaan mencoba membagi karyawan mereka kedalam kelompok kerja berdasarkan golongan darah dan tak seorang pun ingin bekerja dengan kelompok golongan darah AB.
a. Memiliki perasaan yang sensitif, lembut.
b. Penuh perhatian dan menjaga perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.
c. Di samping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan orang-orang yang dekat dengannya.
d. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian.
e. Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu panjang dan dalam.
f. Punya banyak teman, tapi membutuhkan waktu dan tempat untuk menyendiri dalam memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Bagaimana? Apakah penelitian yang dilakukan Jepang terhadap sifat dan karakteristik golongan darah sama dengan karakter dan sifat anda? @ann

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrPinterestMySpaceShare

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 September 2016

pope francis
TIDAK ADA ALLAH PEPERANGAN; ALLAH ADALAH ALLAH PERDAMAIAN

(http://pope-at-mass.blogspot. co.id/2016/09/homili-paus- fransiskus-dalam-misa-20.html)

Bacaan Ekaristi : Ams. 21:1-6,10-13; Mzm. 119:1,27,30,34,35,44; Luk. 8:19-21

Dunia perlu berjalan “mengatasi perpecahan agama-agama”, dan merasa “malu” akan peperangan, tanpa menutup “telinga” terhadap jeritan mereka yang sedang menderita : itulah apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi 20 September 2016 di Casa Santa Marta, Vatikan. Bapa Suci berbicara hanya beberapa jam sebelum beliau berangkat ke Asisi, kota perbukitan Umbria, di mana beliau akan mengambil bagian dalam penutupan KTT internasional para pemimpin lintas agama untuk mendoakan perdamaian dunia. Pertemuan serupa pertama kali diadakan di Asisi atas prakarsa Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1986.

“Tidak ada dewa perang”. Perang, kebiadaban sebuah bom yang meledak, membunuh dan melukai orang-orang, dan memangkas bantuan kemanusiaan sehingga ia tidak bisa didapatkan oleh anak-anak, lansia, orang sakit, adalah karya unik “si jahat” yang “ingin membunuh semua orang”, kata Paus Fransiskus. Untuk ini, perlunya semua agama berdoa, bahkan menangis untuk perdamaian – bersatu dalam keyakinan bahwa “Allah adalah seorang Allah perdamaian”.

Pada awal homilinya, Paus Fransiskus mengamati, “hari ini, pria dan wanita dari semua agama, kami akan pergi ke Asisi – tidak untuk melakukan sebuah pertunjukan : hanya berdoa dan berdoa untuk perdamaian”. Beliau mengingat suratnya kepada seluruh uskup sedunia dan meminta mereka mengelola pertemuan doa pada hari ini, mengundang “orang-orang Katolik, orang-orang Kristen, orang-orang beriman serta semua pria dan wanita yang berkehendak baik, pria dan wanita agama apapun, untuk berdoa bagi perdamaian”, karena, beliau menegaskan, “dunia sedang berperang! Dunia sedang menderita!”

“Bacaan Pertama hari ini (Ams 21:1-6,10-13)”, lanjut Paus Fransiskus, “berakhir seperti ini : ‘Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru'. Jika sekarang kita menutup telinga kita bagi jeritan orang-orang ini yang sedang menderita pengeboman, yang menderita eksploitasi para pedagang senjata, mungkin jika itu terjadi pada kita, kita tidak akan didengar. Kita tidak bisa menutup telinga bagi jeritan kesakitan dari saudara dan saudari kita yang sedang menderita karena perang”.

“Kita tidak melihat” peperangan, Paus Fransiskus meneruskan. “Kita ditakut-takuti" oleh “beberapa aksi terorisme” tetapi “ini tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi di negara-negara tersebut, di negeri-negeri tersebut di mana bom, siang dan malam, jatuh dan jatuh” dan “membunuh anak-anak, lansia, pria, wanita …”. “Jauhkah peperangan?” tanya Paus Fransiskus. “Tidak! Ia sangat dekat” karena “peperangan menggapai semua orang… peperangan dimulai di dalam hati”.

“Semoga Tuhan menganugerahkan kita kedamaian dalam hati kita”, Paus Fransiskus berdoa. Semoga Ia “mengenyahkan semua keinginan untuk keserakahan, ketamakan, untuk berseteru. Tidak! Perdamaian, perdamaian!”, Paus Fransiskus berseru lagi. Sehingga “hati kita merupakan hati seorang pria atau wanita perdamaian. Dan mengatasi perpecahan agama-agama : semua orang, semua orang, semua orang! Karena kita semua adalah anak-anak Allah. Dan Allah adalah Allah perdamaian. Tidak ada allah peperangan. Siapa yang membuat peperangan adalah jahat, Iblislah yang ingin membunuh semua orang”.

Menghadapi hal ini, tidak bisa ada perpecahan di antara agama-agama, Paus Fransiskus menegaskan. Tidaklah cukup hanya berterima kasih kepada Allah karena mungkin peperangan “tidak mempengaruhi kita”. Marilah kita bersyukur untuk hal ini, ya, tambah Paus Fransiskus, “tetapi kita juga harus memikirkan orang lain” yang sedang terkena olehnya.

Kita memikirkan hari ini tidak hanya tentang bom, orang-orang yang meninggal, orang-orang yang terluka; tetapi juga tentang orang-orang – anak-anak dan lansia – karena bagi mereka bantuan kemanusiaan belum tiba sehingga mereka bisa makan. Obat-obatan belum dapat tiba. Mereka lapar, sakit! Karena bom sedang mencegah bantuan yang harus mereka dapatkan. Dan, seraya kita berdoa hari ini, akan lebih baik jika kita semua merasa malu. Malu akan hal ini : manusia-manusia itu, saudara-saudara kita, mampu melakukan hal ini. Hari ini, hari doa, penebusan dosa, jeritan untuk perdamaian; hari untuk mendengar jeritan orang-orang miskin. Jeritan ini yang membuka hati untuk kasih sayang, untuk mengasihi dan menyelamatkan kita dari keegoisan.

(Peter Suriadi – Bogor, 20 September 2016)

Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

SPIRITUALITAS MEDIOR

DSC_0312    DSC_0310

Pertemuan para suster medior di Jawa didampingi oleh Rm Paul Suparno SJ. Untuk gelombang I diadakan pada tanggal 26-28 Agustus 2016 dan gelombang II diadakan pada tanggal 2-4 September 2016. Kesempatan yang ada juga jadi saat yang pas untuk saling berbagi pengalaman dengan sharing bersama. Dengan gayanya yang khas, Rm Paul memaparkan materi seputar Spiritualitas Medior.

Hal pertama yang dibicarakan adalah menyadari keberadaan diri sebagai suster medior. Para peserta diajak untuk melihat Siapa aku orang medior? Hal ini penting untuk mengembalikan kesadaran masing-masing pribadi bahwa kita adalah pribadi yang diutus. Kita adalah orang yang diutus Yesus dalam Kongregasi.

Para medior adalah orang-orang yang dipercayakan untuk menjalankan perutusan Kongregasi, sekaligus yang bertanggungjawab mati hidupnya Kongregasi. Karena para Medior adalah tonggak dari Kongregasi. Salah satu tugas yang juga sangat penting adalah, para medior juga memiliki tugas untuk mencari uang demi kehidupan Kongregasi

Refleksi selanjutnya soal BAGAIMANA KITA MENJALANKAN PERUTUSAN ITU?

Masing-masing pribadi mendapat kesempatan untuk merenung sekaligus merefleksikan selama ini bagaimana tiap pribadi menjalankan tugas perutusan itu dengan bantuan pertanyaan:

  1. Apakah aku gembira?
  2. Apakah aku sedih dan frustrasi?
  3. Apakah yang membahagiakanku?
  4. Apa yang mengembangkanku?
  5. Apakah yang dapat aku syukuri?

Menarik sekali untuk direnungkan bersama, apakah setelah menjalankan perutusan yang dipercayakan kepada kita masing-masing sebagai medior, sungguhkah kita merasa gembira dan mau berbagi pengalaman iman dengan sesama saudari di komunitas, seperti yang diajarkan oleh para murid yang dikisahkan dalam Injil Lukas 10:17-20.

Para murid kembali setelah menjalankan perutusan memberikan laporan dengan menceritakan keberhasilan dan kegembiraan mereka. Yesus mengingatkan mereka sekaligus meneguhkan dengan berkata: “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga” (Luk.10:20). Ini hanya bisa terjadi jika kita para medior sadar akan betapa pentingnya kesatuan kita dengan Tuhan (Yohanes 15:1-8).

Sumber tulisa asli: Materi Spiritualitas Medior

Rm Paul Suparno SJ

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

MENGENANG SR.M. PAULA WARDJINAH PBHK

IMG-20160801-WA0011

 

Sr. M. Paula Wardjinah PBHK lahir di Pakem (Yogyakarta) pada tanggal 16 Agustus 1940 dari pasangan Paulus Sanadi dan Maria Pawit. Sejarah panggilan Sr. Paula tercatat sebagai berikut:

Sr. Paula, masuk postulat di Purworejo pada tanggal 26 Juli 1965. Diterima untuk menjalani masa Novisiat di Purworejo pada tanggal 26 Agustus 1966. Setelah menjalani masa novisiat, Sr. Paula diperkenankan untuk mengikrarkan kaul pertama pada tanggl 02 Juli 1968, bertempat di Purworejo. Menjalani masa yuniorat kurang lebih 7 tahun, Sr. Paula akhirnya mengikrakan kaul kekalnya pada tanggal 02 Juli 1975, acara ini dilaksanakan di Purworejo. 2 moment penting untuk mengenang perjalanan panggilannya, telah dialami oleh Sr. Paula yakni, Pesta perak hidup membiara yang dilaksanakan pada tanggal 02 Juli 1993 dan Pesta Panca Windu pada tanggal 02 Juli 2008, kedua peristiwa ini dilaksanakan di Purworejo..

Kepercayaan dari Kongregasi diterima oleh Sr.Paula dengan penuh sukacita dengan melaksanakan tugas perutusan yang dipercayakan kepadanya. Sr. Paula melaksanakan tugas perutusan menjadi guru di SD Maria Purworejo pada tahun 1968-1969. Sesudah melaksanakan tugas di Purworejo, Sr. Paula dipercayakan untuk mengajar SD Bunda Hati Kudus di Grogol. Tahun 1976-1978, Sr. Paula kembali lagi melaksanakan tugas perutusan di Purworejo dengan menjadi guru SD Maria Purworejo. Ladang Tuhan begitu luas, itulah sebabnya Allah yang penuh cinta itu memanggil lagi Sr. Paula kembali ke Jakarta pada tahun 1978 untuk melaksanakan tugas perutusan menjadi Pimpinan TK Malaikat Pelindung Kramat-Jakarta dan akhirnya pada tahun 2000-sampai sekarang menjalani masa-masa pensiun di Komunitas Kramat.

Profil singkat Sr. Paula PBHK:

Sr. Paula adalah seporang pribadi yang sangat sederhana, sertia dan memiliki iman yang teguh. Cintanya kepada Allah dan sesama sangatlah mendalam. Ketekunannya membangun relasi intim dengan Allah membuahkan kegembiaraan yang terpancar bagi sesama dalam tugas dan kehidupannya sehari-hari. Kepasrahan kepada Allah menjadi kekuatannya dalam menghadapi sakit dan penderitaan yang dialami, tanpa berkeluh kesah namun menerimanya dalam kesederhanaan dan kegembiraan.

Rutinitas tugas yang dimiliki dilaksanakannya dengan tekun dan setia meski dengan segala keterbatasan fisik yang ada. Segala usaha dan perjuangannya untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari sungguh membawa berkat  dalam kehidupan berkomunitas. Dalam menghadapi suasana sulit dan sakit, dia tidak pernah mengeluh tapi menerimanya dengan gembira, bahkan sapaan-sapaan hangat  tetap diberikannya kepada siapa saja dijumpainya. Sampai pada saat-saat terakhir mengalami perawatan intensif di Rumah Sakit Carolus Jakarta, Senin, 25 Juli 2016, Sr. Paula masih melewatinya dengan gembira. Hingga akhirnya Rahmat Allah sungguh cukup baginya. Tuhan memandang dan memperhatikannya dan mengambil  kembali Sr. Paula ke pangkuan-Nya tanggal 31 Juli 2016 pukul 18.45 di Rumah Sakit Carolus Jakarta.

Selamat jalan Sr. Paula, doakanlah kami semua yang masih berziarah di dunia ini….

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

PRINSIP HIDUP PUTRI BUNDA HATI KUDUS

1. MISTIK PBHK

  • Kasih Allah Bapa kepada manusia yang terutama nampak dalam Hati Yesus, yang    berkat Roh Kudus menjelma menjadi manusia melalui Bunda Maria.
  • Cinta tersebut disaksikan secara istimewa oleh Maria, Bunda Hati Kudus, dalam      jalinan intimitas Hati dengan Sang Puteranya.
  • Keterbukaan Hati dalam wujud keprihatinan terhadap segala bentuk kemalangan    dan penderitaan manusia dan keterlukaan (tertikam) oleh dosa-dosa manusia.
  • Putri Bunda Hati Kudus ingin bersama Maria memasuki misteri Hati Yesus, dan        memberi kesaksian tentang cinta itu melalui perutusannya ke dalam dunia dalam   kesatuan dengan Gereja.

2. CARA HIDUP PBHK
Mistik / Kharisma PBHK mengilhami cara hidup seorang PBHK dan mewujudkannya dalam suatu penyerahan / bakti diri secara total kepada Yesus, sang Putera, yang bersama Maria, ibuNya, dipersatukan oleh intimitas kasih.

a. Personal
Penyerahan / bakti diri secara total dan personal kepada Yesus bersama Maria, dengan hati tak terbagi melalui:
1) Hidup berkaul: tanda dan ungkapan pembaktian diri sepenuhnya.
2) Hidup doa / batin: jalinan kesatuan dengan Dia yang memanggil dan mengutus; khususnya Ekaristi, sebagai perayaan dan santapan, kurban dan kehadiran merupakan pusat dan puncak seluruh hdiup bakti. Di dalamnya kesatuan dengan Yesus dirayakan dan diungkapkan sepenuhnya. Spiritualitas Ekaristi harus tetap menjiwai seorang PBHK dlam keadaan apapun.
3) Sarana-sarana lain untuk pendalaman hidup bakti, seperti:
a) Adorasi: hidup kita menjadi santapan dan sumber kehidupan bagi sesame, sehingga hidup kita dapat menjadi pujian bagi Allah, yang nampak dalam Hati Kudus Yesus.
b) Pemulihan: hidup kita menjadi silih, yang berarti rela menderita bagi dosa-dosa manusia, bahkan rela menjadi “tumbal” demi terbebasnya orang-orang dari kematian dosa.

b. Komuniter
Dalam kesatuan denga rekan-rekan seprofesi kehidupan bersama, merupakan suatu ungkapan dan balasan cinta kasih Kristus, melalui hidup berkaul, hidup doa, Ekaristi, Adorasi, pemulihan yang semuanya bercorak komuniter.

3. APOSTOLAT
Kita dipanggil mengikuti Kristus secara lebih dekat melalui Kongregasi. Seluruh hidup kita merupakan kesaksian profetis di dalam Gereja dan dunia atas cinta kasih Allah, supaya orang-orang, di manapun juga berada, dapat mengalami bahwa mereka dikasihi Allah dalam diri Yesus.
Suster PBHK, dalam kebersamaan Maria, Bunda Hati Kudus, dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk mengambil bagian dalam karya penebusan Allah menjadi Rasul Cinta Hati Kudus, untuk menaburkan hidup dan menjadi santapan bagi manusia, khususnya orang-orang yang malang, miskin , menderita dan tertindas, seturut charisma Pater Chevalier, agar Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana.

Dalam gerakan ini keprihatinan terdalam PBHK adalah:
a. Menaburkan, mewartakan dan membagikan kasih Tuhan seperti tampak dalam Hati Kristus yang prihatin terhadap nasib manusia dan yang tertikam/ terluka oleh dosa-dosa manusia.
b. Meneladan Hati Kudus Yesus yang tergerak oleh belaskasih melihat segala penderitaan dan kesusahan orang lain, dan menghantar mereka kepada HatiNya untuk disembuhkan dan dibebaskan.
c. Memulihkan dunia yang dilanda oleh dosa kepada cinta Hati Kudus Yesus.

IDENTITAS PBHK

WANITA RELIGIUS YANG:

1. Mengagumi dan mengalami cinta Bapa, sebagaimana nyata dalam diri Yesus yang berkat pencurahan Roh Kudus mengosongkan diri menjadi manusia dan nampak dalam HatiNya yang prihatin dan tertikam demi keselamatan manusia.

2. Terpikat dan didorong oleh intimitas Hati Yesus dan Hati Maria, berhasrat memasuki misteri Hati Yesus, yang prihatin akan nasib manusia dan yang tertikam karena dosa-dosa manusia.

3. Menyerahkan hidupnya secara utuh, menyeluruh, radikal, tak terbagi kepada cinta Hati Kudus Yesus melalui hidup berkaul, hidup berkomunitas, hidup doa, khususnya Ekaristi, Adorasi, pemulihan dan kerasulan.

4. Mewarisi semangat Pater Chevalier ikut ambil bagian dalam gerak keprihatinan Hati Kudus dengan menjadi rasul cinta HatiNya untuk menaburkan hidup, mewartakan dan membagikan kasihNya serta menjadi santapan bagi semua orang, terutama mereka yang kecil, menderita, tersingkir, agar Hati Kudus Yesus dicintai di mana-mana.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

YOUR LOVE

Sacred Heart-18

 

Your Love by Michael G. Spence

Lord put your love between my
shoulder and my cross to help me bare the weightLord put your love between my heart
and my suffering to take some of the pain.

Lord put your love between my eyes
and your cross that I may not lose it’s sight.

Lord put your love between my tongue
and my enemy to remove it’s sting.

Lord put your love between my mouth
and my soul that I may forever your praises sing.

Lord put your love in my hand, that I
may use it to help my follow man.

Lord put your love in my soul
that I might enlighten the world.

 

 

 

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

1737987ko4qsk6aim

 

Selamat Ulang Tahun kami ucapkan kepada:

1. Sr. M. Claudia Surtilah (04 April)

2. Sr. M. Martina Fanumby (06 April)

3. Sr. M. Benedicta Ratih Puspa (08 April)

4. Sr. M. Dyonisia Titik Suprapti (10 April)

5. Sr. M. Celestina Welerubun (11 April)

6. Sr. M. Regina Tawurutubun (12 April)

7. Sr. M. Sara Heatubun (12 April)

8. Sr. M. Victoria Moiwend (12 April)

Semoga selalu mengalami kasih Allah dalam menjalani kehidupan setiap hari sehingga senantiasa setia di jalan panggilan.

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Maret 2016

pope francis

ALLAH LEBIH BESAR DARIPADA DOSA-DOSA KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita menyelesaikan katekese tentang kerahiman dalam Perjanjian Lama, dan kita melakukannya dengan merenungkan Mazmur 51, yang dikenal sebagai Miserere. Ini adalah sebuah doa pertobatan yang di dalamnya permintaan akan pengampunan didahului oleh pengakuan kesalahan yang di dalamnya Pemazmur, memungkinkan dirinya dimurnikan oleh kasih Tuhan, menjadi ciptaan baru, yang mampu taat, mampu teguh dalam roh dan mampu memuji dengan tulus.

“Gelar” yang diberikan oleh tradisi Yahudi kuno pada Mazmur ini mengacu kepada Raja Daud dan dosanya dengan Batsyeba, istri Uria, orang Het. Kita tahu dengan baik perselingkuhan tersebut. Raja Daud, yang dipanggil oleh Allah untuk menggembalakan kepada umat-Nya dan memimpin mereka di jalan ketaatan kepada Hukum Ilahi, mengkhianati perutusannya dan, setelah berzinah dengan Batsyeba, menginginkan suaminya dibunuh. Dosa yang mengerikan! Nabi Natan mengungkapkan kesalahannya kepadanya dan membantu dia untuk mengakuinya. Ini adalah saat pendamaian dengan Allah, dalam pengakuan akan dosanya. Dan di sini Daud rendah hati; ia luar biasa! Barangsiapa berdoa dengan Mazmur ini diundang untuk memiliki perasaan-perasaan pertobatan yang sama dan percaya kepada Allah seperti yang dilakukan Daud, ketika ia bertobat dan, meskipun merupakan Raja, merendahkan dirinya, tanpa takut mengakui kesalahannya dan menunjukkan penderitaannya kepada Tuhan, namun yakin akan kepastian kerahiman-Nya. Dan apa yang ia lakukan bukanlah dosa kecil, kebohongan kecil : ia telah melakukan perzinahan dan pembunuhan!

Mazmur dimulai dengan kata-kata permohonan ini :

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (ayat 3-4)

Doa permohonan yang ditujukan kepada Allah kerahiman karena, tergerak oleh kasih yang besar seperti kasih seorang ayah atau seorang ibu, Ia memiliki belas kasih, yaitu, Ia menganugerahkan rahmat, menunjukkan kebaikan-Nya dengan kebajikan dan pemahaman. Ini adalah seruan patah hati kepada Allah, satu-satunya yang bisa membebaskan dari dosa. Gambar yang sangat mudah dibentuk digunakan : hapuskanlah, bersihkanlah aku, tahirkanlah aku. Kebutuhan nyata manusia diwujudkan dalam doa ini : satu-satunya hal yang kita benar-benar butuhkan dalam hidup kita adalah diampuni, dibebaskan dari kejahatan dan konsekuensi-konsekuensi kematiannya. Sayangnya, kehidupan sering membuat kita mengalami situasi-situasi ini dan, di dalamnya, kita pertama-tama harus percaya dalam kerahiman. Allah lebih daripada dosa kita. Marilah kita tidak melupakan hal ini : Allah lebih besar daripada dosa kita! “Bapa, saya tidak tahu bagaimana mengatakannya, saya telah melakukan begitu banyak <dosa>!” Allah lebih besar daripada semua dosa yang bisa kita lakukan. Allah lebih besar daripada dosa kita. Maukah kita mengatakannya bersama-sama? Semua bersama-sama : “Allah lebih besar daripada dosa kita!” Sekali lagi : “Allah lebih besar daripada dosa kita!” Dan kasih-Nya adalah sebuah lautan yang di dalamnya kita dapat membenamkan diri tanpa takut terbebani : bagi Allah, mengampuni berarti memberi kita kepastian bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu (bdk. 1 Yoh 3:20), karena Allah lebih besar daripada dosa kita.

Dalam hubungan ini, siapa pun yang berdoa dengan Mazmur ini mencari pengampunan, mengakui kesalahannya, tetapi, ia mengakuinya, ia merayakan keadilan dan kekudusan Allah. Dan kemudian, ia meminta rahmat dan kerahiman lagi. Pemazmur dipercayakan dirinya kepada kebaikan Allah; ia tahu bahwa pengampunan ilahi sangat efektif, karena ia menciptakan apa yang tak terkatakan. Dosa tidak tersembunyi, tetapi dihancurkan dan dihapuskan; tetapi, pada kenyataannya ia dihapuskan dari akarnya, tidak seperti yang mereka lakukan di binatu, ketika kita mengambil pakaian yang memiliki noda dihapuskan. Tidak! Allah menghapus dosa kita pada kenyataannya dari akar, semuanya! Oleh karena itu, peniten menjadi murni lagi, setiap noda dihilangkan dan ia sekarang lebih putih dari salju yang tidak terkotori. Kita semua orang-orang berdosa. Apakah ini benar? Jika salah satu dari kalian tidak tahu dirinya orang berdosa, biarkanlah dia mengangkat tangannya … Tak seorang pun! Kita semua demikian. Dengan pengampunan, kita orang-orang berdosa menjadi ciptaan-ciptaan baru, penuh sekali dengan Roh dan penuh akan sukacita. Sekarang kenyataan baru dimulai bagi kita: hati yang baru, semangat yang baru, kehidupan yang baru. Kita, orang-orang berdosa yang diampuni, yang menerima rahmat ilahi, juga bisa mengajar orang lain untuk tidak berbuat dosa lagi. “Tetapi Bapa, aku lemah, aku jatuh, jatuh”. “Tetapi jika kalian jatuh, bangkitlah! Bangkitlah Naik! “Ketika seorang anak jatuh, apa yang ia lakukan? Ia mengangkat tangannya kepada ibunya, kepada ayahnya, sehingga ia dibantu untuk bangun. Kita harus melakukan hal yang sama! Jika kalian jatuh ke dalam dosa kelemahan, angkatlah tangan kalian. Tuhan akan mengambilnya dan membantu kalian bangkit. Ini adalah martabat pengampunan Allah. Martabat yang diberikan pengampunan Allah kepada kita adalah martabat kebangkitan, berdiri selalu, karena Ia menciptakan pria dan wanita untuk berdiri.

Pemazmur mengatakan

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! ….. aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (ayat 12.15).

Saudara dan saudari terkasih, kita semua membutuhkan pengampunan Allah, dan itu adalah tanda terbesar kerahiman-Nya – karunia agar setiap orang berdosa yang diampuni dipanggil untuk berbagi dengan setiap saudara atau saudari yang ia jumpai. Semua orang yang telah ditempatkan Tuhan di samping kita, para kerabat, para sahabat, kolega, umat paroki … semuanya, seperti kita, membutuhkan kerahiman Allah. Menyenangkannya diampuni, tetapi kalian juga, jika kalian ingin diampuni, ampunilah pada gilirannya. Ampunilah! Semoga Tuhan menganugerahkan kita, melalui perantaraan Maria, Bunda Kerahiman, menjadi saksi-saksi pengampunan-Nya, yang membersihkan hati dan mengubah hidup kita. Terima kasih.

[Sambutan kepada para peziarah berbahasa Italia]

Dalam sukacita khas Kebangkitan, pikiran saya tertuju kepada para Diakon Serikat Yesus yang terkasih, yang disertai oleh para Pemimpin dan kerabat mereka, dan itu adalah harapan saya yang tulus agar peziarahan Yubileum kalian kaya dalam buah-buah rohani untuk kepentingan seluruh Serikat. Saya merangkul kalian secara rohani, remaja laki-laki dan remaja perempuan tercinta dari berbagai dekenat, paroki dan rumah doa Keuskupan Agung Milan, serta umat Keuskupan Cremona, pada kesempatan Pengakuan Iman kalian. Kepada kalian dan kepada seluruh orang sebaya kalian, khususnya para mahasiswa Sekolah Tinggi Keuskupan Ravenna-Cervia, saya berharap agar kalian dapat menghayati dalam kepenuhan pesan Paskah, selalu setia pada Baptisan kalian dan saksi-saksi yang penuh sukacita dari Kristus yang mati dan bangkit untuk kita.

Saya menyambut Misionaris Fransiskan Suster-suster Maria, di akhir Bab Umum mereka; dan umat Paroki Sakramen Mahakudus Bari, pada kesempatan seratus tahun berdirinya. Ini adalah keinginan tulus saya agar kunjungan kalian ke Roma bagi kalian semua merupakan kesempatan pembaharuan rohani.

Pemikiran penuh kasih sayang tertuju kepada kalian, orang-orang sakit yang terkasih, yang kepadanya saya menasihatkan untuk memandang terus kepada-Nya, yang mengalahkan maut dan yang membantu kita menerima penderitaan sebagai kesempatan berharga penebusan dan keselamatan. Akhirnya, saya mengundang kalian, para pengantin baru yang terkasih, untuk menghayati pengalaman keluarga kalian sehari-hari dengan tatapan kalian berpaling kepada Kristus yang bangkit, yang pada hari Paskah dikurbankan bagi kita.

[Sambutan kepada para peziarah berbahasa Inggris]

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita untuk Tahun Suci Kerahiman ini, kita sekarang mengakhiri perlakuan kita dari Perjanjian Lama dengan mempertimbangkan Mazmur 51, Miserere. Mazmur ini secara tradisional dipandang sebagai doa Raja Daud untuk pengampunan setelah dosanya dengan Batsyeba. Kata-kata pembukaannya : “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu”, adalah sebuah pengakuan dosa yang bergerak, pertobatan dan harapan yang meyakinkan dalam pengampunan Allah yang penuh kerahiman. Bersama-sama dengan permohonan yang tulus untuk dibersihkan dan ditahirkan dari dosanya, pemazmur menyanyikan pujian akan keadilan dan kekudusan Allah yang tak terbatas. Ia memohon pengampunan akan dosanya yang besar, tetapi juga karunia hati yang murni dan semangat yang teguh, sehingga, dengan demikian diperbarui, ia bisa menarik orang-orang berdosa lainnya kembali ke jalan kebenaran. Pengampunan Allah adalah tanda terbesar kerahiman-Nya yang tak terbatas. Melalui doa-doa Maria, Bunda Kerahiman, semoga kita menjadi saksi-saksi yang lebih meyakinkan terhadap kerahiman ilahi yang mengampuni dosa-dosa kita, menciptakan di dalam diri kita hati yang baru, dan memungkinkan kita untuk memberitakan kasih Allah yang mendamaikan kepada dunia.

[Penutup]

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, termasuk dari Inggris, Irlandia, Norwegia, Nigeria, Australia, Indonesia, Pakistan dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Tuhan yang bangkit, saya memohonkan atas kalian dan keluarga-keluarga kalian kerahiman yang mencintai dari Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkati kalian semua!

(Peter Suriadi – Bogor, 30 Maret 2016)

(http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/03/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_30.html)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

MENAMBAH PENGETAHUAN

foto_ayah_dan_anak_mirip-20150724-003-rita

Mencoba memahami Sabda Tuhan:

Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. (Injil Yohanes 20: 29)

Secara manusiawi ada tahapan untuk kepercayaan. Dan kepercayaan adalah bagian dari keutuhan manusia.

Bina Iman Anak dan Remaja melalui tahapan :

sumber

http://kutikata.blogspot.co.id/2009/09/tahap-perkembangan-kepercayaan.html

Tahap Perkembangan Kepercayaan
Sari Pemikiran James W. Fowler dalam “Teori Perkembangan Kepercayaan: Karya-karya Penting James W. Fowler”, Editor. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1995

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Satu Manusia sebagai Pemberi Makna
James W. Fowler mengembangkan suatu teori yang disebutnya “Faith Development Theory”. Teorinya ini lebih menjurus pada psikologi agama. Namun pendekatannya ini membantu kita dalam memahami tahapan perkembangan percaya seorang manusia dan satu komunitas. Atau membantu dalam memahami alasan-alasan mengapa dan bagaimana seorang menjadi percaya atau beragama.

Beragama bagi Fowler adalah bagian dari proses mencari makna, sebab itu menurutnya manusia adalah meaning maker (pemberi arti). Manusia adalah subyek yang bermakna dan memberi/menciptakan makna pada sesuatu atau pada iman (faith), dan kepercayaan (belief)/agama. Proses memberi makna itu yang memperlihatkan bahwa manusialah yang menyusun suatu penjelasan terhadap berbagai pengertian yang semula tidak tersusun secara rapi. Fenomena-fenomena percaya awal adalah suatu susunan pemikiran dan pengertian yang ‘talamburang’ (tidak teratur, ajeg). Manusialah yang menyusunnya. Dalam proses penyusunan itu manusia juga yang mencari sesuatu material/simbol (sign) yang sinonim atau bisa merepresentasi hal yang dipercayainya itu. Karena itu menjadi percaya, atau iman adalah juga suatu proses semantik yang dibuat oleh manusia.

Rupanya Fowler tidak mau terlalu dipusingkan dengan hal-hal semantik itu seperti halnya para antropolog agama seperti E.B. Tylor (di masa Klasik) atau Ruth Benedict dan Fiona Bowie (di masa modern).

Sederhananya bagi Fowler ialah bahwa faith dimengertinya sebagai sesuatu yang luas dari sekedar ‘kepercayaan’ (belief), walau keduanya sinonim dengan ‘tindak pengartian’ (upaya memberi arti/menjelaskan). Sebab kepercayaan menyangkut mental untuk menciptakan, memelihara dan mentransformasi arti. Hasilnya adalah apa yang disebutnya sebagai ‘kepercayaan eksistensial’.

Kepercayaan eksistensial itu sendiri menurutnya merupakan suatu kegiatan relasional, artinya ‘berada-dalam-relasi-dengan-sesuatu’. Maka kepercayaan eksistensial diawali oleh ‘rasa percaya’ (yun. Pisteuo = saya percaya dalam arti bahwa saya menyerahkan diri seluruhnya dan mengandalkan engkau).

Hal itu berarti:
Pertama, kepercayaan sebagai cara seorang pribadi (atau kelompok) melihat hubungannya dengan orang lain, dengan siapa ia merasa diri bersatu berdasarkan latar belakang sejumlah tujuan dan pengartian yang dimiliki bersama.

Ini menjurus pada adanya suatu ajaran yang membentuk ranah kognisi dalam hal menjadi percaya. Tetapi juga suatu sistem praktek yang membentuk ranah afeksi dan motorik.
Kedua, kepercayaan sebagai cara tertentu, dengan mana pribadi menafsirkan dan menjelaskan seluruh peristiwa dan pengalaman yang berlangsung dalam segala lapangan daya kehidupannya yang majemuk dan kompleks.

Aktifitas menafsir (interpretation) dan menjelaskan (clarification, verstehen) di sini mengamanatkan bahwa kepercayaan adalah bagian dari suatu hermeneutika kehidupan, yang terkait bukan dengan dokumen-dokumen kudus yang turut menyusun dogma agama melainkan dokumen-dokumen kehidupan yang selalu dijumpai manusia dalam pengalaman nyata di masyarakat/dunianya.

Ketiga, kepercayaan sebagai cara pribadi melihat seluruh nilai dan kekuatan yang merupakan realitas paling akhir dan pasti bagi diri dan sesamanya. Di sini ditentukan mana ‘gambaran penuntun’ mengenai yang ultim yang akhirnya dapat menggerakkan dan menjadi acuan hidup kita.

Pada sisi ini muncul seperangkat etika dalam agama, serta ajaran mengenai Tuhan sebagai yang ultim.

Dua Fides quae creditur, Fides qua creditur

Untuk merinci isi dari kepercayaan itu, Fowler membedakan antara fides quae creditur, yaitu substansi dan isi kognisi dari hal yang dipercayai, dan fides qua creditur yakni cara kita percaya akan hal tersebut.
Dengan demikian kepercayaan selalu ada dalam dialektika antara ajaran untuk menjadi percaya dan cara/praktek menjadi percaya. Apa yang disebut percaya tidak sekedar menerima secara taken for granted tetapi belajar secara kritis melalui praksis. Sebab apa yang menjadi isi kognisi (ajaran) sesungguhnya adalah kumulasi dari apa yang dialami dalam hidup sehari-hari.
Beberapa teolog lain seperti John B. Cobb, jr, menunjukkan bahwa hal menjadi percaya baru datang pada saat manusia melakoni aktitifitas sehari-hari (dailiy activity). Maka kepercayaan juga ditentukan oleh aktifitas dan peran sosial/tanggungjawab.

Tiga Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan

Tahap 0: Kepercayaan Elementer Awal
(Primal Faith)
Tahap ini timbul sebagai Tahap 0 (nol) atau Pratahap (pre-stage, yaitu masa orok, bayi, 0 sampai 2 atau 3 tahun). Kepercayaan ini disebut juga pratahap “kepercayaan yang belum terdiferensiasi (undifferentiated faith), karena: (a) ciri disposisi praverbal si bayi terhadap lingkungannya yang belum dirasakan dan disadari sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari dirinya, dan (b) daya-daya seperti kepercayaan dasar, keberanian, harapan dan cinta (serta daya-daya lawannya) belum dibedakan lewat proses pertumbuhan, melainkan masih saling tercampur satu ama lain dalam suatu keadaan kesatuan yang samar-samar. Rasa percaya elementer ini bersifat pralinguistis (sebelum tumbuh kemampuan membahasa), praverbal, dan prakonseptual.

Tahap 1: Kepercayaan Intuitif-Proyektif
(Intuitive-Projective Faith)
Pola eksistensial yang intuitif-proyektif menandai tahap perkembangan pertama (umur 3-7 tahun) karena daya imajinasi dan dunia gambaran sangat berkembang. Apa yang dialami di Tahap 0 (nol) menjadi hal yang sangat berarti dalam Tahap 1. Dunia pengalaman sudah mulai disusun melalui seperangkat pengalaman inderawi dan kesan-kesan emosional yang kuar. Namun kesan-kesan itu diangkat ke dalam alam imajinasi. Walau demikian pada tahap ini anak sudah mulai peka terhadap dunia misteri dan Yang Ilagi serta tanda-tanda nyata kekuasaan.

Tahap 2: Kepercayaan Mitis-Harfiah
(Mithic-Literal Faith)
Bentuk kepercayaan ini muncul sebagai tahap kedua (umur 7-12 tahun). Di sini mulai bertumbuh operasi-operasi logis terhadap pengalaman imajinatif di Tahap 1. Operasi-operasi logis itu mulai bersifat konkret, dan mengarah pada adanya kategori sebab-akibat. Di sini anak berusaha melepaskan diri dari skiap egosentrismenya, mulai membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif orang lain, serta memperluas pandangannya dengan mengambil alih pandangan (perspektif) orang lain. Kemampuan untuk menguji dan memeriksa perspektifnya sudah mulai tersusun baik, walau pada tingkat moral anak belum bisa menyusun dunia batin seperti perasaan, sikap dan proses penuntun batiniah yang dimilikinya sendiri.

Tahap 3: Kepercayaan Sintetis-Konvensional
(Synthetic-Conventional Faith)
Tahap ini muncul pada masa adolesen (umur 12-20 tahun). Di sini muncul kemampuan kognitif baru, yaitu operasi-operasi formal, maka remaja mulai mengambil alih pandangan pribadi rang lain menurut pola pengambilan perspektif antar-pribadi secara timbal balik. Di sini sudah ada kemampuan menyusun gambaran percaya pada person tertentu, termasuk person yang Ilahi.

Tahap 4: Kepercayaan Individuatif-Reflektif
(Individuative-Reflective Faith)
Tahap ini muncul pada umur 20 tahun ke atas (awal masa dewasa). Pola ini ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan, dan nilai (religius) lama. Pribadi sudah mampu melihat diri sendiri dan orang lain sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan, tetapi juga yakin bahwa dia sendirilah yang memikul tanggungjawab atas penentuan pilihan ideologis dan gaya hidup yang membuka jalan baginya untuk mengikatkan diri dengan cara menunjukkan kesetiaan pada seluruh hubungan dan pangilan tugas. Disebut ‘individuatif’ karena baru saat inilah manusia tidak semata-mata bergantung pada orang lain, tetapi dengan kesanggupannya sendiri mampu mengadakan dialog antara berbaagai ‘diri; sebagaimana dilihat dan dipantulkan orang-orang dengan ‘diri sejati’ yang hanya dikenal oleh pribadi yang bersangkutan itu sendiri. Manusia mengalami dirinya sebagai yang khas, unik, aktif, kritis, kreatif penuh daya.

Tahap 5: Kepercayaan Eksistensial Konjungtif
(Conjunctive Faith)
Kepercayaan eksistensial konjungtif timbul pada masa usia pertengahan (sekitar umur 35 tahun ke atas). Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kebenaran hanya akan dicapai melalui dialektika, karena sadar bahwa manusia memerlukan suatu tafsiran yang majemuk.
Di sini beragama dan kepercayaan juga dibayang-bayangi oleh simbol, metafora, cerita, mitos, dll yang memerlukan penafsiran kembali.

Tahap 6: Kepercayaan Eksistensial yang Mengacu pada Universalitas
(Universalizing Faith)
Kepercayaan ini berkembang pada umur 45 tahun ke atas. Pribadi melampaui tingkatan paradoks dan polaritas, karena gaya hidupnya langsung berakat pada kesatuan dengan Yang Ultim, yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Pribadi sudah berhasil melepaskan diri (kenosis) dari egonya dan dari pandangan bahwa ego adalah pusat, titik acuan, dan tolok ukur kehidupan yang mutlak. Perjuangan akan kebenaran, keadilan, dan kesatuan sejati berdasarkan semangat cinta universal ini secara antisipatif menjelmakan daya dan dinamika Kerajaan Allah sebagai persekutuan cinta dan kesetiakawanan antara segala sesuatu yang ada.

sumber

https://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_agama#Pertumbuhan_Agama_pada_Masa_Anak-Anak

Perkembangan Individu terhadap agama menurut Zakiah Darajat:
Tahap Usia Penjelasan
Tahap I Kanak-kanak 0-6 tahun Pendidikan agama pada umur ini mulai semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilihatnya, maupun perlakuan yang dilakukannya.[11]
Tahap II Pra Remaja 7-12 tahun Ketika anak masuk sekolah dasar, dalam jiwanya ia telah membawa bekal rasa agama yang terdapat dalam kepribadiannya, dari orang tuanya dan dari gurunya ditaman kanak-kanak.[11]
Tahap III Remaja
13-16 tahun Perasaan kepada Tuhan tergantung kepada perubahan emosi yang sedang dialami. kadang-kadang ia sangat membutuhkan Tuhan, kadang-kadang ia kurang membutuhkan Tuhan.[11]
Tahap IV Remaja Akhir 17-21 tahun Kecerdasan remaja telah sampai kepada menuntut agar ajaran agama yang ia terima masuk akal, dapat dipahami dan dijelaskan secara ilmiah dan rasional, namun perasaan masih memegang peran penting dalam sikap dan tindakan agama remaja.[11]
Anak-anak mengenal Tuhan, melalui bahasa.[11]Dari kata-kata orang yang ada pada lingkungannyam yang pada permulaan diterimanya secara acuh tak acuh saja.[11]
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan).[1] Dalam bukunya yang berjudul The Development of Religion on Childern, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu:[1]
• The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun.[1]Pada tingkat ini konsep mengenal Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.[1] Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.[1]
• The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar.[1] Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang mendasar kepada kenyataan (realita).[1]
• The Individual Stage (Tingkat Individual)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosional yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.[1]

Diambil dari group formator
Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Februari 2016 : 

pope francis
TIDAK PERNAH TERLALU TERLAMBAT UNTUK BERTOBAT
(http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/02/wejangan-paus-fransiskus-dalam-doa_28.html)
Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Setiap hari, sayangnya, surat kabar melaporkan berita-berita buruk : pembunuhan, kecelakaan, bencana … dalam perikop Injil hari ini, Yesus mengacu pada dua kejadian tragis zaman-Nya yang telah menyebabkan suatu kegemparan : penindasan kejam yang dilakukan oleh tentara Romawi di Bait Allah, dan runtuhnya menara Siloam di Yerusalem, yang telah mengakibatkan 18 orang tewas (bdk. Luk 13:1-5).

Yesus menyadari mentalitas takhayul para pendengar-Nya dan Ia tahu bahwa mereka secara keliru menafsirkan macam-macam peristiwa ini. Bahkan, mereka berpikir bahwa, jika orang-orang itu telah meninggal dengan cara demikian,dengan kejam, itu adalah tanda bahwa Allah telah menghukum mereka karena beberapa dosa besar yang telah mereka lakukan, seakan-akan mengatakan “mereka layak mendapatkannya&quot;. Dan di sisi lain , fakta diselamatkan dari aib seperti itu membuat mereka merasa “baik tentang diri mereka”. Mereka pantas mendapatkannya; saya baik-baik saja.

Yesus dengan jelas menolak pandangan ini, karena Allah tidak mengizinkan tragedi-tragedi untuk menghukum dosa-dosa, dan Ia menegaskan bahwa para korban yang malang ini tidak lebih buruk daripada yang lainnya. Sebaliknya, Ia mengajak para pendengar-Nya untuk menarik dari peristiwa-peristiwa yang menyedihkan ini sebuah ajaran yang berlaku untuk semua orang, karena kita semua adalah orang-orang berdosa; pada kenyataannya, Ia berkata kepada orang-orang yang telah menanyai-Nya, “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian!” (ayat 3).

Hari ini juga, melihat aib tertentu dan kejadian yang menyedihkan, kita dapat memiliki godaan untuk “mengunggah&quot; tanggung jawab pada para korban, atau bahkan pada Allah sendiri. Tetapi Injil mengajak kita untuk merenungkan : Apa gagasan tentang Allah yang kita miliki? Apakah kita benar-benar yakin bahwa Allah adalah seperti itu, atau bukankah itu hanya proyeksi kita, seorang Allah yang dibuat menurut “gambar dan rupa” kita?

Yesus, sebaliknya, mengajak kita mengubah hati, membuat peralihan yang radikal di jalan hidup kita, meninggalkan kompromi dengan kejahatan – dan itu adalah sesuatu yang kita semua lakukan, eh? kompromi dengan kejahatan, kemunafikan … Saya pikir hampir semua orang memiliki sedikit kemunafikan – dengan tegas mengambil kembali jalan Injil. Tetapi sekali lagi ada godaan untuk membenarkan diri kita sendiri. Dari apakah seharusnya kita bertobat? Bukankah kita pada dasarnya orang-orang yang baik? – Berapa kali kita memikirkan hal ini : “Bukankah aku pada dasarnya baik, aku adalah orang yang baik” … dan bukan seperti itu, eh? “Bukankah aku orang beriman dan bahkan cukup mengamalkannya?” Dan kita berpikir bahwa itulah bagaimana kita dibenarkan.

Sayangnya, masing-masing dari kita sangat menyerupai pohon itu, selama bertahun-tahun, telah berulang kali menunjukkan bahwa itu steril. Tapi, untungnya bagi kita, Yesus adalah seperti seorang petani yang, dengan kesabaran tak terbatas, masih memperoleh konsesi untuk anggur sia-sia. “Sir, biarkan selama tahun ini juga … mungkin berbuah di masa depan” (ayat 9).

Sayangnya, kita masing-masing sangat menyerupai pohon yang, selama bertahun-tahun, telah berulang kali menunjukkan bahwa ia mandul. Tetapi, untungnya bagi kita, Yesus adalah seperti seorang pengurus kebun anggur yang, dengan kesabaran yang tak terbatas, masih memberi kelonggaran bagi pohon ara yang tak berbuah. “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi ….
mungkin tahun depan ia berbuah” (ayat 8-9).

Suatu “tahun” rahmat : masa pelayanan Kristus, masa Gereja sebelum kedatangan-Nya kembali yang mulia, masa kehidupan kita, yang ditandai oleh sejumlah Masa Prapaskah, yang ditawarkan kepada kita sebagai kesempatan pertobatan dan keselamatan. Sebuah masa dari sebuah Tahun Yubileum Kerahiman. Kesabaran Yesus yang tiada taranya. Pernahkah kalian memikirkan kesabaran Allah? Pernahkah kalian memikirkan juga kepedulian-Nya yang tak terbatas bagi orang-orang berdosa? Bagaimana itu seharusnya membawa kita kepada ketidaksabaran dengan diri kita sendiri! Tidak pernah terlalu terlambat untuk bertobat. Tidak pernah. Hingga saat terakhir, kesabaran Allah menanti kita.

Ingatlah cerita pendek dari Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus, ketika ia mendoakan orang yang dihukum mati, seorang penjahat, yang tidak ingin menerima penghiburan Gereja. Ia menolak imam, ia tidak menginginkan [pengampunan], ia ingin mati seperti itu. Dan Santa Teresa berdoa, di dalam biara, dan ketika orang itu ada di sana, pada saat akan dieksekusi, ia berpaling kepada imam, mengambil salib dan menciumnya. Kesabaran Allah! Ia melakukan hal yang sama dengan kita, dengan kita semua. Berapa kali, kita tidak tahu – kita akan tahu di surga – tetapi berapa kali kita berada di sana, di sana, dan di sana, Tuhan menyelamatkan kita. Ia menyelamatkan kita karena Ia memiliki kesabaran dengan kita. Dan ini adalah kerahiman-Nya. Tidak pernah terlalu terlambat untuk bertobat, tetapi itu mendesak. Sekaranglah! Marilah kita mulai hari ini.

Perawan Maria menopang kita, sehingga kita bisa membuka hati kita terhadap rahmat Allah, terhadap kerahiman-Nya; dan ia membantu kita untuk tidak pernah menghakimi orang lain, melainkan membiarkan diri kita dilanda oleh kemalangan-kemalangan sehari-hari dan melakukan pemeriksaan sungguh-sungguh hati nurani kita dan bertobat.

[Setelah pendarasan Doa Malaikat Tuhan]

Saudara dan saudari terkasih,

Doa saya, dan juga doa-doa kalian yang tidak diragukan lagi, selalu mencakup situasi dramatis para pengungsi yang melarikan diri dari peperangan dan situasi-situasi tidak manusiawi lainnya. Secara khusus, Yunani dan negara-negara lain yang berada di garis depan, dengan murah hati sedang membantu mereka yang membutuhkan kerjasama dari seluruh bangsa. Tanggapan yang diselaraskan bisa menjadi efektif dan secara merata menyalurkan beban. Untuk ini, perlunya bergabung dengan negosiasi-negosiasi yang tegas dan tanpa syarat. Pada saat yang sama, saya telah menerima dengan harapan berita-berita tentang lenyapnya permusuhan di Suriah, dan saya mengajak semua orang untuk berdoa agar celah ini memungkinkan membawa bantuan bagi penduduk yang sedang menderita dan membuka jalan untuk dialog dan perdamaian yang begitu diinginkan.

Saya juga ingin meyakinkan kedekatan saya dengan orang-orang di Kepulauan Fiji, yang dengan kasar dilecut oleh badai yang menghancurkan. Saya mendoakan para korban dan mereka yang berkomitmen untuk pengerjaan bantuan.

Saya menawarkan ucapan ramah untuk semua peziarah dari Roma, dari Italia dan dari negara-negara lain.

Saya menyambut umat Gdansk, penduduk pribumi Biafra, para mahasiswa dari Zaragoza, Huelva, Cordoba dan Zafra, kaum muda Formentera dan umat Jaen.

Saya menyambut kelompok warga Polandia di Italia, umat Cascia, Desenzano del Garda, Vicenza, Castiglione d’Adda dan Rocca di Neto, serta banyak pemuda dari kamp San Gabriele dell’Addolorata, yang didampingi oleh para Bapa Pasionis, anak-anak dari Oratories Rho, Cornaredo dan Pero serta anak-anak dari Buccinasco, serta Sekolah Putri-putri Maria Yang Dikandung Tanpa Noda dari Padua.

Saya menyambut kelompok yang telah datang untuk memperingati “Hari Penyakit Langka” dengan doa khusus dan dorongan saya bagi lembaga-lembaga saling bantu kalian.

Saya mengharapkan kalian semua hari Minggu yang baik. Jangan lupa, tolong, doakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!
*****
(Peter Suriadi – Minggu, 28 Februari 2016)
__._,_.___

Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
« Older Entries