Category Archives: From us to us

PRINSIP HIDUP PUTRI BUNDA HATI KUDUS

1. MISTIK PBHK

  • Kasih Allah Bapa kepada manusia yang terutama nampak dalam Hati Yesus, yang    berkat Roh Kudus menjelma menjadi manusia melalui Bunda Maria.
  • Cinta tersebut disaksikan secara istimewa oleh Maria, Bunda Hati Kudus, dalam      jalinan intimitas Hati dengan Sang Puteranya.
  • Keterbukaan Hati dalam wujud keprihatinan terhadap segala bentuk kemalangan    dan penderitaan manusia dan keterlukaan (tertikam) oleh dosa-dosa manusia.
  • Putri Bunda Hati Kudus ingin bersama Maria memasuki misteri Hati Yesus, dan        memberi kesaksian tentang cinta itu melalui perutusannya ke dalam dunia dalam   kesatuan dengan Gereja.

2. CARA HIDUP PBHK
Mistik / Kharisma PBHK mengilhami cara hidup seorang PBHK dan mewujudkannya dalam suatu penyerahan / bakti diri secara total kepada Yesus, sang Putera, yang bersama Maria, ibuNya, dipersatukan oleh intimitas kasih.

a. Personal
Penyerahan / bakti diri secara total dan personal kepada Yesus bersama Maria, dengan hati tak terbagi melalui:
1) Hidup berkaul: tanda dan ungkapan pembaktian diri sepenuhnya.
2) Hidup doa / batin: jalinan kesatuan dengan Dia yang memanggil dan mengutus; khususnya Ekaristi, sebagai perayaan dan santapan, kurban dan kehadiran merupakan pusat dan puncak seluruh hdiup bakti. Di dalamnya kesatuan dengan Yesus dirayakan dan diungkapkan sepenuhnya. Spiritualitas Ekaristi harus tetap menjiwai seorang PBHK dlam keadaan apapun.
3) Sarana-sarana lain untuk pendalaman hidup bakti, seperti:
a) Adorasi: hidup kita menjadi santapan dan sumber kehidupan bagi sesame, sehingga hidup kita dapat menjadi pujian bagi Allah, yang nampak dalam Hati Kudus Yesus.
b) Pemulihan: hidup kita menjadi silih, yang berarti rela menderita bagi dosa-dosa manusia, bahkan rela menjadi “tumbal” demi terbebasnya orang-orang dari kematian dosa.

b. Komuniter
Dalam kesatuan denga rekan-rekan seprofesi kehidupan bersama, merupakan suatu ungkapan dan balasan cinta kasih Kristus, melalui hidup berkaul, hidup doa, Ekaristi, Adorasi, pemulihan yang semuanya bercorak komuniter.

3. APOSTOLAT
Kita dipanggil mengikuti Kristus secara lebih dekat melalui Kongregasi. Seluruh hidup kita merupakan kesaksian profetis di dalam Gereja dan dunia atas cinta kasih Allah, supaya orang-orang, di manapun juga berada, dapat mengalami bahwa mereka dikasihi Allah dalam diri Yesus.
Suster PBHK, dalam kebersamaan Maria, Bunda Hati Kudus, dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk mengambil bagian dalam karya penebusan Allah menjadi Rasul Cinta Hati Kudus, untuk menaburkan hidup dan menjadi santapan bagi manusia, khususnya orang-orang yang malang, miskin , menderita dan tertindas, seturut charisma Pater Chevalier, agar Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana.

Dalam gerakan ini keprihatinan terdalam PBHK adalah:
a. Menaburkan, mewartakan dan membagikan kasih Tuhan seperti tampak dalam Hati Kristus yang prihatin terhadap nasib manusia dan yang tertikam/ terluka oleh dosa-dosa manusia.
b. Meneladan Hati Kudus Yesus yang tergerak oleh belaskasih melihat segala penderitaan dan kesusahan orang lain, dan menghantar mereka kepada HatiNya untuk disembuhkan dan dibebaskan.
c. Memulihkan dunia yang dilanda oleh dosa kepada cinta Hati Kudus Yesus.

IDENTITAS PBHK

WANITA RELIGIUS YANG:

1. Mengagumi dan mengalami cinta Bapa, sebagaimana nyata dalam diri Yesus yang berkat pencurahan Roh Kudus mengosongkan diri menjadi manusia dan nampak dalam HatiNya yang prihatin dan tertikam demi keselamatan manusia.

2. Terpikat dan didorong oleh intimitas Hati Yesus dan Hati Maria, berhasrat memasuki misteri Hati Yesus, yang prihatin akan nasib manusia dan yang tertikam karena dosa-dosa manusia.

3. Menyerahkan hidupnya secara utuh, menyeluruh, radikal, tak terbagi kepada cinta Hati Kudus Yesus melalui hidup berkaul, hidup berkomunitas, hidup doa, khususnya Ekaristi, Adorasi, pemulihan dan kerasulan.

4. Mewarisi semangat Pater Chevalier ikut ambil bagian dalam gerak keprihatinan Hati Kudus dengan menjadi rasul cinta HatiNya untuk menaburkan hidup, mewartakan dan membagikan kasihNya serta menjadi santapan bagi semua orang, terutama mereka yang kecil, menderita, tersingkir, agar Hati Kudus Yesus dicintai di mana-mana.

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrPinterestMySpaceShare

YOUR LOVE

Sacred Heart-18

 

Your Love by Michael G. Spence

Lord put your love between my
shoulder and my cross to help me bare the weightLord put your love between my heart
and my suffering to take some of the pain.

Lord put your love between my eyes
and your cross that I may not lose it’s sight.

Lord put your love between my tongue
and my enemy to remove it’s sting.

Lord put your love between my mouth
and my soul that I may forever your praises sing.

Lord put your love in my hand, that I
may use it to help my follow man.

Lord put your love in my soul
that I might enlighten the world.

 

 

 

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

HAPPY BIRTHDAY

1737987ko4qsk6aim

 

Selamat Ulang Tahun kami ucapkan kepada:

1. Sr. M. Claudia Surtilah (04 April)

2. Sr. M. Martina Fanumby (06 April)

3. Sr. M. Benedicta Ratih Puspa (08 April)

4. Sr. M. Dyonisia Titik Suprapti (10 April)

5. Sr. M. Celestina Welerubun (11 April)

6. Sr. M. Regina Tawurutubun (12 April)

7. Sr. M. Sara Heatubun (12 April)

8. Sr. M. Victoria Moiwend (12 April)

Semoga selalu mengalami kasih Allah dalam menjalani kehidupan setiap hari sehingga senantiasa setia di jalan panggilan.

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Maret 2016

pope francis

ALLAH LEBIH BESAR DARIPADA DOSA-DOSA KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita menyelesaikan katekese tentang kerahiman dalam Perjanjian Lama, dan kita melakukannya dengan merenungkan Mazmur 51, yang dikenal sebagai Miserere. Ini adalah sebuah doa pertobatan yang di dalamnya permintaan akan pengampunan didahului oleh pengakuan kesalahan yang di dalamnya Pemazmur, memungkinkan dirinya dimurnikan oleh kasih Tuhan, menjadi ciptaan baru, yang mampu taat, mampu teguh dalam roh dan mampu memuji dengan tulus.

“Gelar” yang diberikan oleh tradisi Yahudi kuno pada Mazmur ini mengacu kepada Raja Daud dan dosanya dengan Batsyeba, istri Uria, orang Het. Kita tahu dengan baik perselingkuhan tersebut. Raja Daud, yang dipanggil oleh Allah untuk menggembalakan kepada umat-Nya dan memimpin mereka di jalan ketaatan kepada Hukum Ilahi, mengkhianati perutusannya dan, setelah berzinah dengan Batsyeba, menginginkan suaminya dibunuh. Dosa yang mengerikan! Nabi Natan mengungkapkan kesalahannya kepadanya dan membantu dia untuk mengakuinya. Ini adalah saat pendamaian dengan Allah, dalam pengakuan akan dosanya. Dan di sini Daud rendah hati; ia luar biasa! Barangsiapa berdoa dengan Mazmur ini diundang untuk memiliki perasaan-perasaan pertobatan yang sama dan percaya kepada Allah seperti yang dilakukan Daud, ketika ia bertobat dan, meskipun merupakan Raja, merendahkan dirinya, tanpa takut mengakui kesalahannya dan menunjukkan penderitaannya kepada Tuhan, namun yakin akan kepastian kerahiman-Nya. Dan apa yang ia lakukan bukanlah dosa kecil, kebohongan kecil : ia telah melakukan perzinahan dan pembunuhan!

Mazmur dimulai dengan kata-kata permohonan ini :

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (ayat 3-4)

Doa permohonan yang ditujukan kepada Allah kerahiman karena, tergerak oleh kasih yang besar seperti kasih seorang ayah atau seorang ibu, Ia memiliki belas kasih, yaitu, Ia menganugerahkan rahmat, menunjukkan kebaikan-Nya dengan kebajikan dan pemahaman. Ini adalah seruan patah hati kepada Allah, satu-satunya yang bisa membebaskan dari dosa. Gambar yang sangat mudah dibentuk digunakan : hapuskanlah, bersihkanlah aku, tahirkanlah aku. Kebutuhan nyata manusia diwujudkan dalam doa ini : satu-satunya hal yang kita benar-benar butuhkan dalam hidup kita adalah diampuni, dibebaskan dari kejahatan dan konsekuensi-konsekuensi kematiannya. Sayangnya, kehidupan sering membuat kita mengalami situasi-situasi ini dan, di dalamnya, kita pertama-tama harus percaya dalam kerahiman. Allah lebih daripada dosa kita. Marilah kita tidak melupakan hal ini : Allah lebih besar daripada dosa kita! “Bapa, saya tidak tahu bagaimana mengatakannya, saya telah melakukan begitu banyak <dosa>!” Allah lebih besar daripada semua dosa yang bisa kita lakukan. Allah lebih besar daripada dosa kita. Maukah kita mengatakannya bersama-sama? Semua bersama-sama : “Allah lebih besar daripada dosa kita!” Sekali lagi : “Allah lebih besar daripada dosa kita!” Dan kasih-Nya adalah sebuah lautan yang di dalamnya kita dapat membenamkan diri tanpa takut terbebani : bagi Allah, mengampuni berarti memberi kita kepastian bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu (bdk. 1 Yoh 3:20), karena Allah lebih besar daripada dosa kita.

Dalam hubungan ini, siapa pun yang berdoa dengan Mazmur ini mencari pengampunan, mengakui kesalahannya, tetapi, ia mengakuinya, ia merayakan keadilan dan kekudusan Allah. Dan kemudian, ia meminta rahmat dan kerahiman lagi. Pemazmur dipercayakan dirinya kepada kebaikan Allah; ia tahu bahwa pengampunan ilahi sangat efektif, karena ia menciptakan apa yang tak terkatakan. Dosa tidak tersembunyi, tetapi dihancurkan dan dihapuskan; tetapi, pada kenyataannya ia dihapuskan dari akarnya, tidak seperti yang mereka lakukan di binatu, ketika kita mengambil pakaian yang memiliki noda dihapuskan. Tidak! Allah menghapus dosa kita pada kenyataannya dari akar, semuanya! Oleh karena itu, peniten menjadi murni lagi, setiap noda dihilangkan dan ia sekarang lebih putih dari salju yang tidak terkotori. Kita semua orang-orang berdosa. Apakah ini benar? Jika salah satu dari kalian tidak tahu dirinya orang berdosa, biarkanlah dia mengangkat tangannya … Tak seorang pun! Kita semua demikian. Dengan pengampunan, kita orang-orang berdosa menjadi ciptaan-ciptaan baru, penuh sekali dengan Roh dan penuh akan sukacita. Sekarang kenyataan baru dimulai bagi kita: hati yang baru, semangat yang baru, kehidupan yang baru. Kita, orang-orang berdosa yang diampuni, yang menerima rahmat ilahi, juga bisa mengajar orang lain untuk tidak berbuat dosa lagi. “Tetapi Bapa, aku lemah, aku jatuh, jatuh”. “Tetapi jika kalian jatuh, bangkitlah! Bangkitlah Naik! “Ketika seorang anak jatuh, apa yang ia lakukan? Ia mengangkat tangannya kepada ibunya, kepada ayahnya, sehingga ia dibantu untuk bangun. Kita harus melakukan hal yang sama! Jika kalian jatuh ke dalam dosa kelemahan, angkatlah tangan kalian. Tuhan akan mengambilnya dan membantu kalian bangkit. Ini adalah martabat pengampunan Allah. Martabat yang diberikan pengampunan Allah kepada kita adalah martabat kebangkitan, berdiri selalu, karena Ia menciptakan pria dan wanita untuk berdiri.

Pemazmur mengatakan

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! ….. aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (ayat 12.15).

Saudara dan saudari terkasih, kita semua membutuhkan pengampunan Allah, dan itu adalah tanda terbesar kerahiman-Nya – karunia agar setiap orang berdosa yang diampuni dipanggil untuk berbagi dengan setiap saudara atau saudari yang ia jumpai. Semua orang yang telah ditempatkan Tuhan di samping kita, para kerabat, para sahabat, kolega, umat paroki … semuanya, seperti kita, membutuhkan kerahiman Allah. Menyenangkannya diampuni, tetapi kalian juga, jika kalian ingin diampuni, ampunilah pada gilirannya. Ampunilah! Semoga Tuhan menganugerahkan kita, melalui perantaraan Maria, Bunda Kerahiman, menjadi saksi-saksi pengampunan-Nya, yang membersihkan hati dan mengubah hidup kita. Terima kasih.

[Sambutan kepada para peziarah berbahasa Italia]

Dalam sukacita khas Kebangkitan, pikiran saya tertuju kepada para Diakon Serikat Yesus yang terkasih, yang disertai oleh para Pemimpin dan kerabat mereka, dan itu adalah harapan saya yang tulus agar peziarahan Yubileum kalian kaya dalam buah-buah rohani untuk kepentingan seluruh Serikat. Saya merangkul kalian secara rohani, remaja laki-laki dan remaja perempuan tercinta dari berbagai dekenat, paroki dan rumah doa Keuskupan Agung Milan, serta umat Keuskupan Cremona, pada kesempatan Pengakuan Iman kalian. Kepada kalian dan kepada seluruh orang sebaya kalian, khususnya para mahasiswa Sekolah Tinggi Keuskupan Ravenna-Cervia, saya berharap agar kalian dapat menghayati dalam kepenuhan pesan Paskah, selalu setia pada Baptisan kalian dan saksi-saksi yang penuh sukacita dari Kristus yang mati dan bangkit untuk kita.

Saya menyambut Misionaris Fransiskan Suster-suster Maria, di akhir Bab Umum mereka; dan umat Paroki Sakramen Mahakudus Bari, pada kesempatan seratus tahun berdirinya. Ini adalah keinginan tulus saya agar kunjungan kalian ke Roma bagi kalian semua merupakan kesempatan pembaharuan rohani.

Pemikiran penuh kasih sayang tertuju kepada kalian, orang-orang sakit yang terkasih, yang kepadanya saya menasihatkan untuk memandang terus kepada-Nya, yang mengalahkan maut dan yang membantu kita menerima penderitaan sebagai kesempatan berharga penebusan dan keselamatan. Akhirnya, saya mengundang kalian, para pengantin baru yang terkasih, untuk menghayati pengalaman keluarga kalian sehari-hari dengan tatapan kalian berpaling kepada Kristus yang bangkit, yang pada hari Paskah dikurbankan bagi kita.

[Sambutan kepada para peziarah berbahasa Inggris]

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita untuk Tahun Suci Kerahiman ini, kita sekarang mengakhiri perlakuan kita dari Perjanjian Lama dengan mempertimbangkan Mazmur 51, Miserere. Mazmur ini secara tradisional dipandang sebagai doa Raja Daud untuk pengampunan setelah dosanya dengan Batsyeba. Kata-kata pembukaannya : “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu”, adalah sebuah pengakuan dosa yang bergerak, pertobatan dan harapan yang meyakinkan dalam pengampunan Allah yang penuh kerahiman. Bersama-sama dengan permohonan yang tulus untuk dibersihkan dan ditahirkan dari dosanya, pemazmur menyanyikan pujian akan keadilan dan kekudusan Allah yang tak terbatas. Ia memohon pengampunan akan dosanya yang besar, tetapi juga karunia hati yang murni dan semangat yang teguh, sehingga, dengan demikian diperbarui, ia bisa menarik orang-orang berdosa lainnya kembali ke jalan kebenaran. Pengampunan Allah adalah tanda terbesar kerahiman-Nya yang tak terbatas. Melalui doa-doa Maria, Bunda Kerahiman, semoga kita menjadi saksi-saksi yang lebih meyakinkan terhadap kerahiman ilahi yang mengampuni dosa-dosa kita, menciptakan di dalam diri kita hati yang baru, dan memungkinkan kita untuk memberitakan kasih Allah yang mendamaikan kepada dunia.

[Penutup]

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, termasuk dari Inggris, Irlandia, Norwegia, Nigeria, Australia, Indonesia, Pakistan dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Tuhan yang bangkit, saya memohonkan atas kalian dan keluarga-keluarga kalian kerahiman yang mencintai dari Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkati kalian semua!

(Peter Suriadi – Bogor, 30 Maret 2016)

(http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/03/wejangan-paus-fransiskus-dalam-audiensi_30.html)

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

MENAMBAH PENGETAHUAN

foto_ayah_dan_anak_mirip-20150724-003-rita

Mencoba memahami Sabda Tuhan:

Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya. (Injil Yohanes 20: 29)

Secara manusiawi ada tahapan untuk kepercayaan. Dan kepercayaan adalah bagian dari keutuhan manusia.

Bina Iman Anak dan Remaja melalui tahapan :

sumber

http://kutikata.blogspot.co.id/2009/09/tahap-perkembangan-kepercayaan.html

Tahap Perkembangan Kepercayaan
Sari Pemikiran James W. Fowler dalam “Teori Perkembangan Kepercayaan: Karya-karya Penting James W. Fowler”, Editor. A. Supratiknya, Yogyakarta: Kanisius, 1995

Oleh. Elifas Tomix Maspaitella

Satu Manusia sebagai Pemberi Makna
James W. Fowler mengembangkan suatu teori yang disebutnya “Faith Development Theory”. Teorinya ini lebih menjurus pada psikologi agama. Namun pendekatannya ini membantu kita dalam memahami tahapan perkembangan percaya seorang manusia dan satu komunitas. Atau membantu dalam memahami alasan-alasan mengapa dan bagaimana seorang menjadi percaya atau beragama.

Beragama bagi Fowler adalah bagian dari proses mencari makna, sebab itu menurutnya manusia adalah meaning maker (pemberi arti). Manusia adalah subyek yang bermakna dan memberi/menciptakan makna pada sesuatu atau pada iman (faith), dan kepercayaan (belief)/agama. Proses memberi makna itu yang memperlihatkan bahwa manusialah yang menyusun suatu penjelasan terhadap berbagai pengertian yang semula tidak tersusun secara rapi. Fenomena-fenomena percaya awal adalah suatu susunan pemikiran dan pengertian yang ‘talamburang’ (tidak teratur, ajeg). Manusialah yang menyusunnya. Dalam proses penyusunan itu manusia juga yang mencari sesuatu material/simbol (sign) yang sinonim atau bisa merepresentasi hal yang dipercayainya itu. Karena itu menjadi percaya, atau iman adalah juga suatu proses semantik yang dibuat oleh manusia.

Rupanya Fowler tidak mau terlalu dipusingkan dengan hal-hal semantik itu seperti halnya para antropolog agama seperti E.B. Tylor (di masa Klasik) atau Ruth Benedict dan Fiona Bowie (di masa modern).

Sederhananya bagi Fowler ialah bahwa faith dimengertinya sebagai sesuatu yang luas dari sekedar ‘kepercayaan’ (belief), walau keduanya sinonim dengan ‘tindak pengartian’ (upaya memberi arti/menjelaskan). Sebab kepercayaan menyangkut mental untuk menciptakan, memelihara dan mentransformasi arti. Hasilnya adalah apa yang disebutnya sebagai ‘kepercayaan eksistensial’.

Kepercayaan eksistensial itu sendiri menurutnya merupakan suatu kegiatan relasional, artinya ‘berada-dalam-relasi-dengan-sesuatu’. Maka kepercayaan eksistensial diawali oleh ‘rasa percaya’ (yun. Pisteuo = saya percaya dalam arti bahwa saya menyerahkan diri seluruhnya dan mengandalkan engkau).

Hal itu berarti:
Pertama, kepercayaan sebagai cara seorang pribadi (atau kelompok) melihat hubungannya dengan orang lain, dengan siapa ia merasa diri bersatu berdasarkan latar belakang sejumlah tujuan dan pengartian yang dimiliki bersama.

Ini menjurus pada adanya suatu ajaran yang membentuk ranah kognisi dalam hal menjadi percaya. Tetapi juga suatu sistem praktek yang membentuk ranah afeksi dan motorik.
Kedua, kepercayaan sebagai cara tertentu, dengan mana pribadi menafsirkan dan menjelaskan seluruh peristiwa dan pengalaman yang berlangsung dalam segala lapangan daya kehidupannya yang majemuk dan kompleks.

Aktifitas menafsir (interpretation) dan menjelaskan (clarification, verstehen) di sini mengamanatkan bahwa kepercayaan adalah bagian dari suatu hermeneutika kehidupan, yang terkait bukan dengan dokumen-dokumen kudus yang turut menyusun dogma agama melainkan dokumen-dokumen kehidupan yang selalu dijumpai manusia dalam pengalaman nyata di masyarakat/dunianya.

Ketiga, kepercayaan sebagai cara pribadi melihat seluruh nilai dan kekuatan yang merupakan realitas paling akhir dan pasti bagi diri dan sesamanya. Di sini ditentukan mana ‘gambaran penuntun’ mengenai yang ultim yang akhirnya dapat menggerakkan dan menjadi acuan hidup kita.

Pada sisi ini muncul seperangkat etika dalam agama, serta ajaran mengenai Tuhan sebagai yang ultim.

Dua Fides quae creditur, Fides qua creditur

Untuk merinci isi dari kepercayaan itu, Fowler membedakan antara fides quae creditur, yaitu substansi dan isi kognisi dari hal yang dipercayai, dan fides qua creditur yakni cara kita percaya akan hal tersebut.
Dengan demikian kepercayaan selalu ada dalam dialektika antara ajaran untuk menjadi percaya dan cara/praktek menjadi percaya. Apa yang disebut percaya tidak sekedar menerima secara taken for granted tetapi belajar secara kritis melalui praksis. Sebab apa yang menjadi isi kognisi (ajaran) sesungguhnya adalah kumulasi dari apa yang dialami dalam hidup sehari-hari.
Beberapa teolog lain seperti John B. Cobb, jr, menunjukkan bahwa hal menjadi percaya baru datang pada saat manusia melakoni aktitifitas sehari-hari (dailiy activity). Maka kepercayaan juga ditentukan oleh aktifitas dan peran sosial/tanggungjawab.

Tiga Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan

Tahap 0: Kepercayaan Elementer Awal
(Primal Faith)
Tahap ini timbul sebagai Tahap 0 (nol) atau Pratahap (pre-stage, yaitu masa orok, bayi, 0 sampai 2 atau 3 tahun). Kepercayaan ini disebut juga pratahap “kepercayaan yang belum terdiferensiasi (undifferentiated faith), karena: (a) ciri disposisi praverbal si bayi terhadap lingkungannya yang belum dirasakan dan disadari sebagai hal yang terpisah dan berbeda dari dirinya, dan (b) daya-daya seperti kepercayaan dasar, keberanian, harapan dan cinta (serta daya-daya lawannya) belum dibedakan lewat proses pertumbuhan, melainkan masih saling tercampur satu ama lain dalam suatu keadaan kesatuan yang samar-samar. Rasa percaya elementer ini bersifat pralinguistis (sebelum tumbuh kemampuan membahasa), praverbal, dan prakonseptual.

Tahap 1: Kepercayaan Intuitif-Proyektif
(Intuitive-Projective Faith)
Pola eksistensial yang intuitif-proyektif menandai tahap perkembangan pertama (umur 3-7 tahun) karena daya imajinasi dan dunia gambaran sangat berkembang. Apa yang dialami di Tahap 0 (nol) menjadi hal yang sangat berarti dalam Tahap 1. Dunia pengalaman sudah mulai disusun melalui seperangkat pengalaman inderawi dan kesan-kesan emosional yang kuar. Namun kesan-kesan itu diangkat ke dalam alam imajinasi. Walau demikian pada tahap ini anak sudah mulai peka terhadap dunia misteri dan Yang Ilagi serta tanda-tanda nyata kekuasaan.

Tahap 2: Kepercayaan Mitis-Harfiah
(Mithic-Literal Faith)
Bentuk kepercayaan ini muncul sebagai tahap kedua (umur 7-12 tahun). Di sini mulai bertumbuh operasi-operasi logis terhadap pengalaman imajinatif di Tahap 1. Operasi-operasi logis itu mulai bersifat konkret, dan mengarah pada adanya kategori sebab-akibat. Di sini anak berusaha melepaskan diri dari skiap egosentrismenya, mulai membedakan antara perspektifnya sendiri dan perspektif orang lain, serta memperluas pandangannya dengan mengambil alih pandangan (perspektif) orang lain. Kemampuan untuk menguji dan memeriksa perspektifnya sudah mulai tersusun baik, walau pada tingkat moral anak belum bisa menyusun dunia batin seperti perasaan, sikap dan proses penuntun batiniah yang dimilikinya sendiri.

Tahap 3: Kepercayaan Sintetis-Konvensional
(Synthetic-Conventional Faith)
Tahap ini muncul pada masa adolesen (umur 12-20 tahun). Di sini muncul kemampuan kognitif baru, yaitu operasi-operasi formal, maka remaja mulai mengambil alih pandangan pribadi rang lain menurut pola pengambilan perspektif antar-pribadi secara timbal balik. Di sini sudah ada kemampuan menyusun gambaran percaya pada person tertentu, termasuk person yang Ilahi.

Tahap 4: Kepercayaan Individuatif-Reflektif
(Individuative-Reflective Faith)
Tahap ini muncul pada umur 20 tahun ke atas (awal masa dewasa). Pola ini ditandai oleh lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan, dan nilai (religius) lama. Pribadi sudah mampu melihat diri sendiri dan orang lain sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan, tetapi juga yakin bahwa dia sendirilah yang memikul tanggungjawab atas penentuan pilihan ideologis dan gaya hidup yang membuka jalan baginya untuk mengikatkan diri dengan cara menunjukkan kesetiaan pada seluruh hubungan dan pangilan tugas. Disebut ‘individuatif’ karena baru saat inilah manusia tidak semata-mata bergantung pada orang lain, tetapi dengan kesanggupannya sendiri mampu mengadakan dialog antara berbaagai ‘diri; sebagaimana dilihat dan dipantulkan orang-orang dengan ‘diri sejati’ yang hanya dikenal oleh pribadi yang bersangkutan itu sendiri. Manusia mengalami dirinya sebagai yang khas, unik, aktif, kritis, kreatif penuh daya.

Tahap 5: Kepercayaan Eksistensial Konjungtif
(Conjunctive Faith)
Kepercayaan eksistensial konjungtif timbul pada masa usia pertengahan (sekitar umur 35 tahun ke atas). Tahap ini ditandai oleh suatu keterbukaan dan perhatian baru terhadap adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya. Kebenaran hanya akan dicapai melalui dialektika, karena sadar bahwa manusia memerlukan suatu tafsiran yang majemuk.
Di sini beragama dan kepercayaan juga dibayang-bayangi oleh simbol, metafora, cerita, mitos, dll yang memerlukan penafsiran kembali.

Tahap 6: Kepercayaan Eksistensial yang Mengacu pada Universalitas
(Universalizing Faith)
Kepercayaan ini berkembang pada umur 45 tahun ke atas. Pribadi melampaui tingkatan paradoks dan polaritas, karena gaya hidupnya langsung berakat pada kesatuan dengan Yang Ultim, yaitu pusat nilai, kekuasaan dan keterlibatan yang terdalam. Pribadi sudah berhasil melepaskan diri (kenosis) dari egonya dan dari pandangan bahwa ego adalah pusat, titik acuan, dan tolok ukur kehidupan yang mutlak. Perjuangan akan kebenaran, keadilan, dan kesatuan sejati berdasarkan semangat cinta universal ini secara antisipatif menjelmakan daya dan dinamika Kerajaan Allah sebagai persekutuan cinta dan kesetiakawanan antara segala sesuatu yang ada.

sumber

https://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_agama#Pertumbuhan_Agama_pada_Masa_Anak-Anak

Perkembangan Individu terhadap agama menurut Zakiah Darajat:
Tahap Usia Penjelasan
Tahap I Kanak-kanak 0-6 tahun Pendidikan agama pada umur ini mulai semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilihatnya, maupun perlakuan yang dilakukannya.[11]
Tahap II Pra Remaja 7-12 tahun Ketika anak masuk sekolah dasar, dalam jiwanya ia telah membawa bekal rasa agama yang terdapat dalam kepribadiannya, dari orang tuanya dan dari gurunya ditaman kanak-kanak.[11]
Tahap III Remaja
13-16 tahun Perasaan kepada Tuhan tergantung kepada perubahan emosi yang sedang dialami. kadang-kadang ia sangat membutuhkan Tuhan, kadang-kadang ia kurang membutuhkan Tuhan.[11]
Tahap IV Remaja Akhir 17-21 tahun Kecerdasan remaja telah sampai kepada menuntut agar ajaran agama yang ia terima masuk akal, dapat dipahami dan dijelaskan secara ilmiah dan rasional, namun perasaan masih memegang peran penting dalam sikap dan tindakan agama remaja.[11]
Anak-anak mengenal Tuhan, melalui bahasa.[11]Dari kata-kata orang yang ada pada lingkungannyam yang pada permulaan diterimanya secara acuh tak acuh saja.[11]
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak melalui beberapa fase (tingkatan).[1] Dalam bukunya yang berjudul The Development of Religion on Childern, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu:[1]
• The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun.[1]Pada tingkat ini konsep mengenal Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.[1] Pada tingkat perkembangan ini anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.[1]
• The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar.[1] Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang mendasar kepada kenyataan (realita).[1]
• The Individual Stage (Tingkat Individual)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosional yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.[1]

Diambil dari group formator
Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Februari 2016 : 

pope francis
TIDAK PERNAH TERLALU TERLAMBAT UNTUK BERTOBAT
(http://katekesekatolik.blogspot.co.id/2016/02/wejangan-paus-fransiskus-dalam-doa_28.html)
Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Setiap hari, sayangnya, surat kabar melaporkan berita-berita buruk : pembunuhan, kecelakaan, bencana … dalam perikop Injil hari ini, Yesus mengacu pada dua kejadian tragis zaman-Nya yang telah menyebabkan suatu kegemparan : penindasan kejam yang dilakukan oleh tentara Romawi di Bait Allah, dan runtuhnya menara Siloam di Yerusalem, yang telah mengakibatkan 18 orang tewas (bdk. Luk 13:1-5).

Yesus menyadari mentalitas takhayul para pendengar-Nya dan Ia tahu bahwa mereka secara keliru menafsirkan macam-macam peristiwa ini. Bahkan, mereka berpikir bahwa, jika orang-orang itu telah meninggal dengan cara demikian,dengan kejam, itu adalah tanda bahwa Allah telah menghukum mereka karena beberapa dosa besar yang telah mereka lakukan, seakan-akan mengatakan “mereka layak mendapatkannya&quot;. Dan di sisi lain , fakta diselamatkan dari aib seperti itu membuat mereka merasa “baik tentang diri mereka”. Mereka pantas mendapatkannya; saya baik-baik saja.

Yesus dengan jelas menolak pandangan ini, karena Allah tidak mengizinkan tragedi-tragedi untuk menghukum dosa-dosa, dan Ia menegaskan bahwa para korban yang malang ini tidak lebih buruk daripada yang lainnya. Sebaliknya, Ia mengajak para pendengar-Nya untuk menarik dari peristiwa-peristiwa yang menyedihkan ini sebuah ajaran yang berlaku untuk semua orang, karena kita semua adalah orang-orang berdosa; pada kenyataannya, Ia berkata kepada orang-orang yang telah menanyai-Nya, “Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian!” (ayat 3).

Hari ini juga, melihat aib tertentu dan kejadian yang menyedihkan, kita dapat memiliki godaan untuk “mengunggah&quot; tanggung jawab pada para korban, atau bahkan pada Allah sendiri. Tetapi Injil mengajak kita untuk merenungkan : Apa gagasan tentang Allah yang kita miliki? Apakah kita benar-benar yakin bahwa Allah adalah seperti itu, atau bukankah itu hanya proyeksi kita, seorang Allah yang dibuat menurut “gambar dan rupa” kita?

Yesus, sebaliknya, mengajak kita mengubah hati, membuat peralihan yang radikal di jalan hidup kita, meninggalkan kompromi dengan kejahatan – dan itu adalah sesuatu yang kita semua lakukan, eh? kompromi dengan kejahatan, kemunafikan … Saya pikir hampir semua orang memiliki sedikit kemunafikan – dengan tegas mengambil kembali jalan Injil. Tetapi sekali lagi ada godaan untuk membenarkan diri kita sendiri. Dari apakah seharusnya kita bertobat? Bukankah kita pada dasarnya orang-orang yang baik? – Berapa kali kita memikirkan hal ini : “Bukankah aku pada dasarnya baik, aku adalah orang yang baik” … dan bukan seperti itu, eh? “Bukankah aku orang beriman dan bahkan cukup mengamalkannya?” Dan kita berpikir bahwa itulah bagaimana kita dibenarkan.

Sayangnya, masing-masing dari kita sangat menyerupai pohon itu, selama bertahun-tahun, telah berulang kali menunjukkan bahwa itu steril. Tapi, untungnya bagi kita, Yesus adalah seperti seorang petani yang, dengan kesabaran tak terbatas, masih memperoleh konsesi untuk anggur sia-sia. “Sir, biarkan selama tahun ini juga … mungkin berbuah di masa depan” (ayat 9).

Sayangnya, kita masing-masing sangat menyerupai pohon yang, selama bertahun-tahun, telah berulang kali menunjukkan bahwa ia mandul. Tetapi, untungnya bagi kita, Yesus adalah seperti seorang pengurus kebun anggur yang, dengan kesabaran yang tak terbatas, masih memberi kelonggaran bagi pohon ara yang tak berbuah. “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi ….
mungkin tahun depan ia berbuah” (ayat 8-9).

Suatu “tahun” rahmat : masa pelayanan Kristus, masa Gereja sebelum kedatangan-Nya kembali yang mulia, masa kehidupan kita, yang ditandai oleh sejumlah Masa Prapaskah, yang ditawarkan kepada kita sebagai kesempatan pertobatan dan keselamatan. Sebuah masa dari sebuah Tahun Yubileum Kerahiman. Kesabaran Yesus yang tiada taranya. Pernahkah kalian memikirkan kesabaran Allah? Pernahkah kalian memikirkan juga kepedulian-Nya yang tak terbatas bagi orang-orang berdosa? Bagaimana itu seharusnya membawa kita kepada ketidaksabaran dengan diri kita sendiri! Tidak pernah terlalu terlambat untuk bertobat. Tidak pernah. Hingga saat terakhir, kesabaran Allah menanti kita.

Ingatlah cerita pendek dari Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus, ketika ia mendoakan orang yang dihukum mati, seorang penjahat, yang tidak ingin menerima penghiburan Gereja. Ia menolak imam, ia tidak menginginkan [pengampunan], ia ingin mati seperti itu. Dan Santa Teresa berdoa, di dalam biara, dan ketika orang itu ada di sana, pada saat akan dieksekusi, ia berpaling kepada imam, mengambil salib dan menciumnya. Kesabaran Allah! Ia melakukan hal yang sama dengan kita, dengan kita semua. Berapa kali, kita tidak tahu – kita akan tahu di surga – tetapi berapa kali kita berada di sana, di sana, dan di sana, Tuhan menyelamatkan kita. Ia menyelamatkan kita karena Ia memiliki kesabaran dengan kita. Dan ini adalah kerahiman-Nya. Tidak pernah terlalu terlambat untuk bertobat, tetapi itu mendesak. Sekaranglah! Marilah kita mulai hari ini.

Perawan Maria menopang kita, sehingga kita bisa membuka hati kita terhadap rahmat Allah, terhadap kerahiman-Nya; dan ia membantu kita untuk tidak pernah menghakimi orang lain, melainkan membiarkan diri kita dilanda oleh kemalangan-kemalangan sehari-hari dan melakukan pemeriksaan sungguh-sungguh hati nurani kita dan bertobat.

[Setelah pendarasan Doa Malaikat Tuhan]

Saudara dan saudari terkasih,

Doa saya, dan juga doa-doa kalian yang tidak diragukan lagi, selalu mencakup situasi dramatis para pengungsi yang melarikan diri dari peperangan dan situasi-situasi tidak manusiawi lainnya. Secara khusus, Yunani dan negara-negara lain yang berada di garis depan, dengan murah hati sedang membantu mereka yang membutuhkan kerjasama dari seluruh bangsa. Tanggapan yang diselaraskan bisa menjadi efektif dan secara merata menyalurkan beban. Untuk ini, perlunya bergabung dengan negosiasi-negosiasi yang tegas dan tanpa syarat. Pada saat yang sama, saya telah menerima dengan harapan berita-berita tentang lenyapnya permusuhan di Suriah, dan saya mengajak semua orang untuk berdoa agar celah ini memungkinkan membawa bantuan bagi penduduk yang sedang menderita dan membuka jalan untuk dialog dan perdamaian yang begitu diinginkan.

Saya juga ingin meyakinkan kedekatan saya dengan orang-orang di Kepulauan Fiji, yang dengan kasar dilecut oleh badai yang menghancurkan. Saya mendoakan para korban dan mereka yang berkomitmen untuk pengerjaan bantuan.

Saya menawarkan ucapan ramah untuk semua peziarah dari Roma, dari Italia dan dari negara-negara lain.

Saya menyambut umat Gdansk, penduduk pribumi Biafra, para mahasiswa dari Zaragoza, Huelva, Cordoba dan Zafra, kaum muda Formentera dan umat Jaen.

Saya menyambut kelompok warga Polandia di Italia, umat Cascia, Desenzano del Garda, Vicenza, Castiglione d’Adda dan Rocca di Neto, serta banyak pemuda dari kamp San Gabriele dell’Addolorata, yang didampingi oleh para Bapa Pasionis, anak-anak dari Oratories Rho, Cornaredo dan Pero serta anak-anak dari Buccinasco, serta Sekolah Putri-putri Maria Yang Dikandung Tanpa Noda dari Padua.

Saya menyambut kelompok yang telah datang untuk memperingati “Hari Penyakit Langka” dengan doa khusus dan dorongan saya bagi lembaga-lembaga saling bantu kalian.

Saya mengharapkan kalian semua hari Minggu yang baik. Jangan lupa, tolong, doakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!
*****
(Peter Suriadi – Minggu, 28 Februari 2016)
__._,_.___

Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

SURAT DARI GENERALAT

marie mendoza 1

Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi dimana – mana!

Casa Generalizia della Congregazione                                                                              

Figlie di Nostra Signora del Sacro Cuore

Via del Casale di S Pio V, 37 00165 Roma Italia

Tel: (39) 06 6603 1017 Fax: (39) 06 662 8793

 

February , 2016

Para suster ytk

“Rahmat dan damai  dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus bersama kalian.” (Fil. 1:2)

Saya menulis surat  ini  bertepatan dengan saat  penutupan Hari Hidup Bakti. Saya berharap bahwa dipenghujung  tahun ini, tahun yang dikhususkan untuk kaum Hidup bakti, kita dapat berkata sekali lagi  dengan keyakinan mendalam – “…Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus lah yang hidup  di dalam diriku. Dan Hidup yang sekarang kuhidupi di dalam daging  adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah  yang telah mengasihi aku dan menyerahkan  diriNya untuk aku.” (Gal 2:20)

Salah satu dari banyak berkat  dengan tinggal di Roma adalah mempunyai banyak kesempatan untuk menghadiri  perayaan – perayaan penting di Vatikan. Empat hari  yang lewat,  dari tanggal 28 Januari – 2 Februari, Sr Madeleine, Sr.Laurentia dan Sr.  Elly, mendapat kesempatan  istimewa untuk menghadiri  pertemuan internasional para religius pria dan wanita dari seluruh dunia. Pertemuan ini  mengambil  tema “Consecrated Life in Unity/Hidup Bakti dalam kesatuan.” Para peserta  yang terdiri dari kurang lebih  5000 religius ini mendapat kesempatan untuk Audiensi dengan Bapa Suci Fransiskus. Saya ingin berbagi dengan kalian tentang garis besar  pidato Bapa Paus.

Hal ini akan bermanfaat untuk digunakan sebagai doa dan bahan refleksi  baik  pribadi maupun  komunitas. Bapa Franssikus  menjelaskan  bahwa tindakan hidup bakti  Anda kepada Tuhan bukan berarti melarang diri kita masuk  ke dalam dunia untuk hidup nyaman. Namun kita harus mendekati/menjangkau   mereka baik  yang  beriman maupun yang tak beriman.  “Jadilah Kaum Hidup Bakti!” Baktikan dirimu  agar bisa menjangkau dan memahami  kehidupan orang – orang baik Kristiani maupun non kristiani, baik  dalam penderitaan, permasalahan maupun dalam  banyak hal lain  yang hanya dapat kamu pahami jika hidupmu dibaktikan   bagi “sesama.”

Beliau  memperingatkan terhadap ‘kerusakan’ yang dapat disebabkan oleh gosip. Dia meminta kita untuk tidak memasukkan diri  ke dalam godaan untuk menjelekkan sesama dan memberi kita tip/resep  ketika hal itu terjadi.

Jika Anda ingin mengatakan sesuatu terhadap saudara atau saudari, atau meluncurkan ‘ sebuah bom gosip’ … Gigitlah lidah Anda! Kuat – kuat.”

Paus memperingatkan sebuah praktik yang terjadi ketika anggota kongregasi mulai berusia lanjut; dalam upaya untuk tetap relevan mereka menerima anggota baru dengan menerapkan kriteria yang tidak benar. “Beberapa Kongregasi  melakukan eksperimen dengan ‘inseminasi buatan.” “Apa yang mereka lakukan? Mereka menerima siapa saja. Mereka mengatakan, ‘Ya, datang, datang.” Dan kemudian muncul masalah dari dalam. Hal ini harus dipahami secara serius. “Paus Fransiskus mengakhiri pembicaraannya dengan berterima kasih kepada semua religius  pria dan wanita  atas komitmen dan dedikasi mereka.

“Saya ingin menekankan kepada para religius  yang dikuduskan … bagaimana  Gereja  tanpa biarawati?”  Di banyak negara saat ini, untuk mengatakan “Saya seorang Kristen” merupakan sebuah kejahatan yang bisa mengakibatkan  hukuman mati. Kita melihat penganiayaan terhadap orang  Kristen di media sehari-hari. Paus Franciskus menyebutnya sebagai “perang dunia ketiga, melancarkan sepotong makanan … bentuk pembantaian.” Menurut perkiraan terpercaya, lebih dari 200 juta orang Kristen di 60 negara di seluruh dunia menghadapi beberapa bentuk pembatasan terhadap iman mereka. (L’Osservatore Romano, 15 Januari 2016) Setiap Hari kita melihat gambar /tayangan memilukan. Saya yakin kita masing-masing mendengar suara yang lembut  di hati kita, “Apa yang kamu lakukan untuk mereka?”

Kapitel Umum kita  ke 19 merekomendasikan bahwa “kita melihat  kebutuhan – kebutuhan  orang-orang di sekitar kita, _ dan dengan belas kasih dan kelembutan, menjangkau dan menyembuhkan mereka yang paling rentan di tengah-tengah kita.” Kita diundang untuk membuka mata kita, untuk melihat dunia dengan pikiran terbuka, _ melihat peristiwa melalui mata orang-orang yang menderita. Kita perlu kerendahan hati dan keberanian untuk melihat apa yang tidak relevan lagi dalam cara kita berpikir dan melakukan sesuatu serta terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Mengingat bahwa kita sedang menghadapi masalah global, adalah penting bahwa kita bekerja sama dengan orang lain, bekerja sama dengan kongregasi – kongregasi  lain dan awam. Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita dipanggil untuk “memiliki solidaritas Antar Kongregasi” karena kita yang telah menanggapi panggilan Allah untuk mengikuti Yesus dalam hidup religius adalah semua “penabur” di ladang Tuhan; Allahlah yang membuat benih tumbuh.

Sebagaimana kita memperingati hari wafat Ibu Marie Louise, yang ke 108, mari kita mengenang kembali bahwa dia telah mengalami banyak cobaan dan  penganiayaan. Mari kita, sekali lagi, mendengarkan kata-katanya dan  menyelami imanya yang mendalam  serta keberaniannya.

“Tahun yang baru saja berakhir telah menjadi salah satu cobaan dan penganiayaan … Tapi kita tidak dapat begitu saja merasa  puas atau  hanya  meratapi dan  menangisi situasi … Sekarang demi semua jiwa diperlukan api semangat seperti  St Theresa, St  Fransiskus Xaverius dan Verius. Maka mari kita berjuang, janganlah surut…..menghadapi pengorbanan dan penghinaan. Betapa kita akan menyesal jika pada saat kematian, kita harus mengatakan: Saya  memiliki banyak kesempatan untuk membuktikan cinta saya kepada Yesus dan Maria, namun  saya  lebih memilih mencintai diri sendiri, kemauan saya sendiri, kemudahan saya sendiri … Marilah kita bangkit dari sikap mati suri in,  lamban/lesu berjalan di  jalan pengorbanan. Dan memberi kesempatan pada  orang-orang yang bersemangat  menjadi lebih bersemangat…. “(Ibu Marie Louise Hartzer: Surat Her, # 164)

Bersama-sama, marilah kita bersyukur kepada Allah atas karunia yang berharga yaitu  panggilan kita, dan  marilah kita berusaha untuk tetap setia pada komitmen dan misi : Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana !

Semoga Bunda Hati Kudus mendampingi kita disaat  kita  berusaha untuk “mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:21)

Marife Mendoza fdnsc

Bersama Dewan

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

SURAT IBU MARIE LOUISE HARTZER

???????????????????????????????

SURAT NO. 10

Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana.

Thuin, 12 September 1905

Anak-anakku terkasih, sebagaimana aku tidak mampu mengunjungi anda secara perorangan, sebagaimana para Suster di Belgia, maka secara Rohaniah saya ingin ada di lingkungan anda untuk sekedar menyampaikan, betapa sering pikiran ku melayang kepada anda. Maka aku bersembah sujud di hadapan Sakramen Maha Kudus dan Bunda Hati Kudus. Sebagai bukti, bahwa kami tidak melupakan anda, maka kini kami angkat kembali keputusan bagi Muder Liguori sebagai Overste sejak 1905.

            Beliau pribadi yang baik dan berpasrah. Pasti beliaupun kini akan berbuat baik pula terhadap anda, dan barangkali juga akan lebih baik lagi. Karena beliau tampak lebih meningkat dalam kesalehan dan persatuan kepada Tuhan Yesus dan Maria. Sehingga beliaupun akan lebih menghantar anda kepada Tuhan.

            Maka dari itu anak-anakku terkasih, hendaklah anda menyatu dengannya dan taat berhubung dengan tugasnya sebagai Overste merupakan beban yang cukup berat. Hendaknya anda meringankan tugasnya itu dengan ketatan, kerendahan hati, berpasrah dan cinta kepadanya. Karena kerendahan dan cinta kasih merupakan keutamaan yang tiada hentinya untuk dipupuk dan dikembangkan.

            Cintailah sesamamu bagaikan saudaramu sejati. Maka Tuhan Yesus dan Bunda Hati Kudus akan memberkati anda dan  jika anda inginkan juga agar diturunkan berkat dari surga untuk Kongregasi kita yang kecil dan bagi Perancis yang malang itu. Memanglah, betapa besar dibutuhkan sekarang akan jiwa-jiwa yang perwira yang memberi silih & pemulihan. Betapa banyaklah kini jiwa yang demikian perwira untuk memberikan silih atas sedemikian banyak kejahatan yang kini telah menduduki sebagian besar dunia kita ini. Yang pasti akan menyebabkan siksaan bagi Tuhan. Betapa sering terjadi dosa-dosa, pelanggaran sakrilegi dan penghinaan terhadap patung Bunda kita dan Hati Kudus terlebih lagi pada salib. Betapa mengerikan kebencian terhadap agama. Betapa dahsyat kelicikan setan dalam memperjuangkan siksa bagi jiwa-jiwa terutama di antara anak-anak.

            Maka sebaliknya, hendaklah kita semakin rajin dalam perjuangan untuk segala kebaikan sebagaimana orang lain rajin berbuat jahat. Hendaklah kalian berjuang dengan kurban dan doa kita. Agar banyaklah jiwa kami rengkuh kembali dari kekuasaan setan.

            Mengenai kami, bagaikan seekor burung yang hinggap di ranting yang tidak tahu menahu dengan pasti : akan menetap di Issoudun atau tidak. Namun kami tetap berkanjang pada Hati Kudus Yesus, Maria dan Santo Yusuf yang pasti tidak akan meninggalkan kami. Marilah kita semakin menyucikan diri, maka Sang Guru Illahi akan memperjuangkan selebihnya.

            Doakanlah saya banyak-banyak, anakku yang terkasih. Sebagaimana akupun mendoakan anda dan selalu percaya akan bakti kebundaan dalam Hati Kudus Yesus.

 

TTD

Sr. Marie Louise

 

 

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

SURAT IBU MARIE LOUISE HARTZER

???????????????????????????????

SURAT NO. 9

Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana.

Thuin, 31 Agustus 1905

Berhubung anda telah menulis surat kepadaku dalam bahasa Perancis yang bagus itu, maka tak ada salahnya aku membalas dengan bahasa yang sama, yang bagikupun lebih mudah pula. Jika aku masih muda seperti anda semua, pasti akupun bersedia mempelajari bahasa Inggris secara lebih mendalam. Namun itu sudah terlambat bagiku. Aku harus menerima pengetahuan yang aku miliki. Daya ingatan kalian yang baik hendaknya digunakan sebaik mungkin untuk memahami bahasa Perancis sampai mendalam. Karena di manapun kalian berada, bahasa tersebut akan menguntungkan anda. Syukurlah Sr. M. Sebastian bersedia membantu anda untuk menterjemahkan surat itu ke dalam bahasa Perancis dengan baik. Juga Muder M. Jeanet pasti akan membantu menterjemahkan surat ini. Saya percayakan atas kebaikan di antara kalian yang akan bersedia menterjemahkan surat ini ke dalam bahasa Inggris. Kemudian mengirimkannya kepada para Suster di Botany Bowral, Berma, Boravile dan Mathuina.

            Berhubung anda sekalian menyampaikan harapan secara rukun bersama-sama, maka ada bagusnya bagiku untuk  menyampaikan rasa terimakasihku kepada anda kalian secara umum pula. Sungguh amat baiklah saling rukun menyatakan perbuatan kasih. Maka itulah hiburan bagiku, karena menyadari bahwa kalian sungguh bersatu, sehati sejiwa dalam Hati Kudus Yesus dan Maria. Pandang lah pula perhatian yang lembut dari Penyelenggaraan Illahi.

            Surat anda saya terima hari ini, bertepatan berkumpulnya para Suster dari Thuin dan Tongre pada hari pestaku. Mereka tidak bisa merayakannya pada minggu yang lalu. Dengan demikian sampailah harapan-harapan baik dari anak-anakku yang baik dari Australia. Bersamaan dengan putri-putri terkasih dari Belgia yang sangat menyenangkan hatiku. Di sinilah berkumpul banyak Suster pada sore hari yang sangat meng-gembirakan dengan menyaksikan semangat kegembiraan dan suasana senang dalam pergaulan persaudaraan di antara para Suster kita. Betapa baik dan senangnya hidup bersama sebagai saudara.

            Semoga semangat inilah bagi anda yang senantiasa diperjuangkan. Jika anda berharap menjadi pengantin Yesus dengan setia dan menjadi Putri Bunda Hati Kudus yang sejati. Maka berkat surgawi akan turun atas Kongergasi kita yang tercinta, yang wajib anda cintai sebagai Bunda.

            Semoga para Overste tetap berbaik hati dan kuat dalam kehendak. Sedangkan para Suster  diharapkan juga selalu bertaat dan berbakti secara pasrah. Hendaknya masing-masing dan bersama menjalankan segala dalam semangat silih dalam persatuan dengan Yesus dan Maria.

            Saya sangat senang sekali membaca keistimewaan-keistimewaan yang ditulis oleh Sr. M. Bertran mengenai berdirinya lembaga di Matinna. Saya sampaikan banyak terimakasih. Betapa pula besar terimakasih kita atas perlindungan yang mengagumkan dan kami terima dari Bunda Hati Kudus dan St. Yusuf yang dengan nyata kami saksikan di manapun. Demikian juga dengan para jiwa di api penyucian yang ada dalam perlindungan mereka. Maka kitapun wajib meringankan derita mereka. Jika kalian persoalkan tentang pengejaran yang sedang terjadi, tentang perampasan Basilik kita yang tersayang, beserta rumah para Pater dan biara kita. Namun bersyukurlah, kita selalu berada di dalam perlindungan tangan Tuhan Yesus dan Maria. Tuhan Yesus dan Marialah yang melepaskan kita dari bahaya. Seluruh kepercayaan kita tercurah kepada mereka.

            Di Belgia ini, kita mendapatkan nafkah atas dasar jerih payah dan seluruh keringat kita. Namun kita tidak pernah berkeluh kesah. Kemiskinan suci harus dipilih mengatasi segala yang berlebihan, dan karya harus melebihi kemalasan.

            Hendaklah kita bekerja dengan perwira, di manapun kita ditempatkan oleh Tuhan kita yang maha baik. Maka sampai kekal kami akan merasa tenteram. Meskipun kita masih jauh dari kerajaan-Nya, kita tidak akan dirugikan dalam hal paling kita butuhkan. Sebagaimana telah diceritakannya, maka oleh St Yusuf diperjuangkan melebihi yang kita minta. Oleh karena itu hendaklah kita menghayati hidup pasrah. Yang lebih dahulu dicari adalah Kerajaan Allah beserta segala unsur yang baik. Maka yang lain-lain akan ditambahkan-Nya kepada kami. Semoga yang kami cita-citakan ialah menghayati hidup untuk Tuhan Yesus di dalam Sakramen Maha Kudus, seturut teladan St Perawan Maria tak Bernoda. Tanpa takut menghadapi segala macam korban dalam usaha kami untuk memperjuangkan jiwa-jiwa demi Dia. Ya demi setiap jiwa sejauh itu memungkinkan.

            Selamat jalan anak-anakku terkasih. Saya sampaikan harapan-harapan baik dari para Suster di Eropa. Dan mohon didoakan bagi mereka dan bagiku. Sungguh ini kami butuhkan. Anda semua kami rangkul dalam cinta kebundaan.

TTD Sr. Marie Louise

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:

SURAT IBU MARIE LOUISE HARTZER

???????????????????????????????

 SURAT NO. 8

Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana.

31 Desember 1904

Anak-anakku terkasih, kuucapkan selamat tahun baru. Walau banyak pekerjaan namun aku akan membalas surat-surat anda. Terimakasih atas doa anda. Kami memang sangat membutuhkan terlebih pada masa-masa sulit dan pengejaran. Marilah kita banyak-banyak saling men-doakan. Doa, sambut komuni dan pembaktian pada Bunda kita akan lebih menguatkan dalam pengabdian kita kepada Sang Guru Yang Baik. Kamipun senantiasa didampinginya, supaya dengan sempurna kita dapat  melaksanakan tugas-tugas kita.

            Allah kita yang maha baik, seakan meluluh lantakkan pohon religius kita sedemikian oleh pengejaran. Maksudnya adalah, agar “buah yang terlampau masak atau yang pesakitan” berjatuhan. Yang dikehendaki hanyalah Religius yang dipenuhi semangat cinta kasih-Nya. Jadi bukanlah Religius yang setengah-setengah, yang penuh cinta diri, terlalu berperasaan dan mudah ter-singgung dan selalu seperti anak-anak. Tidak sesuatupun diperuntukkan bagi sesamanya, selalu mencari-cari kemungkinan untuk hidup enak di dalam biaranya, melebihi rumahnya semula. Tanpa kehendak untuk mengurbankan diri dalam sesuatu dan hanya selalu berjuang untuk kehendaknya.

            Hal-hal tersebut sangatlah memuakkan-Nya dan akan dihukum-Nya pula. Memang jika anda ingin menjadi pengantin-pengantin-Nya yang setia dan Para Putri Bunda Hati Kudus yang sejati, maka kita ikuti jejak-jejak mereka. yaitu religius yang dipenuhi semangat cinta kasih-Nya. Hendaknya kita tiru mereka dalam kemis-kinan, kerendahan hati, ketaatan, penyangkalan diri, cinta kasih dan suka berkorban.

            Hendaklah rela berkorban dan bersemangat ber-juang untuk mencapai tempat yang sudah disediakan dalam kehidupan abadi. Untuk mencapainya tidak ada jalan lain kecuali dengan menjalankan kewajiban dalam ketaatan. Marilah kita melaksanakan tugas dengan kerelaan hati. Ingatlah bahwa tahun 1905 adalah tahun penghormatan bagi Hati Kudus Yesus dan Bunda Hati Kudus. Sang Guru Illahi telah mengaruniakan rahmat-Nya dan melindungi panggilan suci kita. Agar kita boleh mempersembahkan hiburan dan silih kepada-Nya oleh keperwiraan kita.

            Itulah saja yang saya harapkan anak-anakku terkasih. Perjuangkanlah itu semua. Maka semua akan berjalan dengan sendirinya. Marilah kita serahkan kepada pendampingan Allah dan Bunda Hati Kudus.

            Saya merangkul anda dengan cinta kebundaan dalam Hati Kudus Yesus.

 

TTD

Sr. Marie Louise

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
« Older Entries