HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 20 September 2016

pope francis
TIDAK ADA ALLAH PEPERANGAN; ALLAH ADALAH ALLAH PERDAMAIAN

(http://pope-at-mass.blogspot. co.id/2016/09/homili-paus- fransiskus-dalam-misa-20.html)

Bacaan Ekaristi : Ams. 21:1-6,10-13; Mzm. 119:1,27,30,34,35,44; Luk. 8:19-21

Dunia perlu berjalan “mengatasi perpecahan agama-agama”, dan merasa “malu” akan peperangan, tanpa menutup “telinga” terhadap jeritan mereka yang sedang menderita : itulah apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Selasa pagi 20 September 2016 di Casa Santa Marta, Vatikan. Bapa Suci berbicara hanya beberapa jam sebelum beliau berangkat ke Asisi, kota perbukitan Umbria, di mana beliau akan mengambil bagian dalam penutupan KTT internasional para pemimpin lintas agama untuk mendoakan perdamaian dunia. Pertemuan serupa pertama kali diadakan di Asisi atas prakarsa Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1986.

“Tidak ada dewa perang”. Perang, kebiadaban sebuah bom yang meledak, membunuh dan melukai orang-orang, dan memangkas bantuan kemanusiaan sehingga ia tidak bisa didapatkan oleh anak-anak, lansia, orang sakit, adalah karya unik “si jahat” yang “ingin membunuh semua orang”, kata Paus Fransiskus. Untuk ini, perlunya semua agama berdoa, bahkan menangis untuk perdamaian – bersatu dalam keyakinan bahwa “Allah adalah seorang Allah perdamaian”.

Pada awal homilinya, Paus Fransiskus mengamati, “hari ini, pria dan wanita dari semua agama, kami akan pergi ke Asisi – tidak untuk melakukan sebuah pertunjukan : hanya berdoa dan berdoa untuk perdamaian”. Beliau mengingat suratnya kepada seluruh uskup sedunia dan meminta mereka mengelola pertemuan doa pada hari ini, mengundang “orang-orang Katolik, orang-orang Kristen, orang-orang beriman serta semua pria dan wanita yang berkehendak baik, pria dan wanita agama apapun, untuk berdoa bagi perdamaian”, karena, beliau menegaskan, “dunia sedang berperang! Dunia sedang menderita!”

“Bacaan Pertama hari ini (Ams 21:1-6,10-13)”, lanjut Paus Fransiskus, “berakhir seperti ini : ‘Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru'. Jika sekarang kita menutup telinga kita bagi jeritan orang-orang ini yang sedang menderita pengeboman, yang menderita eksploitasi para pedagang senjata, mungkin jika itu terjadi pada kita, kita tidak akan didengar. Kita tidak bisa menutup telinga bagi jeritan kesakitan dari saudara dan saudari kita yang sedang menderita karena perang”.

“Kita tidak melihat” peperangan, Paus Fransiskus meneruskan. “Kita ditakut-takuti" oleh “beberapa aksi terorisme” tetapi “ini tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi di negara-negara tersebut, di negeri-negeri tersebut di mana bom, siang dan malam, jatuh dan jatuh” dan “membunuh anak-anak, lansia, pria, wanita …”. “Jauhkah peperangan?” tanya Paus Fransiskus. “Tidak! Ia sangat dekat” karena “peperangan menggapai semua orang… peperangan dimulai di dalam hati”.

“Semoga Tuhan menganugerahkan kita kedamaian dalam hati kita”, Paus Fransiskus berdoa. Semoga Ia “mengenyahkan semua keinginan untuk keserakahan, ketamakan, untuk berseteru. Tidak! Perdamaian, perdamaian!”, Paus Fransiskus berseru lagi. Sehingga “hati kita merupakan hati seorang pria atau wanita perdamaian. Dan mengatasi perpecahan agama-agama : semua orang, semua orang, semua orang! Karena kita semua adalah anak-anak Allah. Dan Allah adalah Allah perdamaian. Tidak ada allah peperangan. Siapa yang membuat peperangan adalah jahat, Iblislah yang ingin membunuh semua orang”.

Menghadapi hal ini, tidak bisa ada perpecahan di antara agama-agama, Paus Fransiskus menegaskan. Tidaklah cukup hanya berterima kasih kepada Allah karena mungkin peperangan “tidak mempengaruhi kita”. Marilah kita bersyukur untuk hal ini, ya, tambah Paus Fransiskus, “tetapi kita juga harus memikirkan orang lain” yang sedang terkena olehnya.

Kita memikirkan hari ini tidak hanya tentang bom, orang-orang yang meninggal, orang-orang yang terluka; tetapi juga tentang orang-orang – anak-anak dan lansia – karena bagi mereka bantuan kemanusiaan belum tiba sehingga mereka bisa makan. Obat-obatan belum dapat tiba. Mereka lapar, sakit! Karena bom sedang mencegah bantuan yang harus mereka dapatkan. Dan, seraya kita berdoa hari ini, akan lebih baik jika kita semua merasa malu. Malu akan hal ini : manusia-manusia itu, saudara-saudara kita, mampu melakukan hal ini. Hari ini, hari doa, penebusan dosa, jeritan untuk perdamaian; hari untuk mendengar jeritan orang-orang miskin. Jeritan ini yang membuka hati untuk kasih sayang, untuk mengasihi dan menyelamatkan kita dari keegoisan.

(Peter Suriadi – Bogor, 20 September 2016)

Posted by: “Br. Yoanes FC” <bruderanygy@hotmail.com>

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrPinterestMySpaceShare

Comments

comments

Powered by Facebook Comments