SURAT DARI GENERALAT

marie mendoza 1

Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi dimana – mana!

Casa Generalizia della Congregazione                                                                              

Figlie di Nostra Signora del Sacro Cuore

Via del Casale di S Pio V, 37 00165 Roma Italia

Tel: (39) 06 6603 1017 Fax: (39) 06 662 8793

 

February , 2016

Para suster ytk

“Rahmat dan damai  dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus bersama kalian.” (Fil. 1:2)

Saya menulis surat  ini  bertepatan dengan saat  penutupan Hari Hidup Bakti. Saya berharap bahwa dipenghujung  tahun ini, tahun yang dikhususkan untuk kaum Hidup bakti, kita dapat berkata sekali lagi  dengan keyakinan mendalam – “…Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus lah yang hidup  di dalam diriku. Dan Hidup yang sekarang kuhidupi di dalam daging  adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah  yang telah mengasihi aku dan menyerahkan  diriNya untuk aku.” (Gal 2:20)

Salah satu dari banyak berkat  dengan tinggal di Roma adalah mempunyai banyak kesempatan untuk menghadiri  perayaan – perayaan penting di Vatikan. Empat hari  yang lewat,  dari tanggal 28 Januari – 2 Februari, Sr Madeleine, Sr.Laurentia dan Sr.  Elly, mendapat kesempatan  istimewa untuk menghadiri  pertemuan internasional para religius pria dan wanita dari seluruh dunia. Pertemuan ini  mengambil  tema “Consecrated Life in Unity/Hidup Bakti dalam kesatuan.” Para peserta  yang terdiri dari kurang lebih  5000 religius ini mendapat kesempatan untuk Audiensi dengan Bapa Suci Fransiskus. Saya ingin berbagi dengan kalian tentang garis besar  pidato Bapa Paus.

Hal ini akan bermanfaat untuk digunakan sebagai doa dan bahan refleksi  baik  pribadi maupun  komunitas. Bapa Franssikus  menjelaskan  bahwa tindakan hidup bakti  Anda kepada Tuhan bukan berarti melarang diri kita masuk  ke dalam dunia untuk hidup nyaman. Namun kita harus mendekati/menjangkau   mereka baik  yang  beriman maupun yang tak beriman.  “Jadilah Kaum Hidup Bakti!” Baktikan dirimu  agar bisa menjangkau dan memahami  kehidupan orang – orang baik Kristiani maupun non kristiani, baik  dalam penderitaan, permasalahan maupun dalam  banyak hal lain  yang hanya dapat kamu pahami jika hidupmu dibaktikan   bagi “sesama.”

Beliau  memperingatkan terhadap ‘kerusakan’ yang dapat disebabkan oleh gosip. Dia meminta kita untuk tidak memasukkan diri  ke dalam godaan untuk menjelekkan sesama dan memberi kita tip/resep  ketika hal itu terjadi.

Jika Anda ingin mengatakan sesuatu terhadap saudara atau saudari, atau meluncurkan ‘ sebuah bom gosip’ … Gigitlah lidah Anda! Kuat – kuat.”

Paus memperingatkan sebuah praktik yang terjadi ketika anggota kongregasi mulai berusia lanjut; dalam upaya untuk tetap relevan mereka menerima anggota baru dengan menerapkan kriteria yang tidak benar. “Beberapa Kongregasi  melakukan eksperimen dengan ‘inseminasi buatan.” “Apa yang mereka lakukan? Mereka menerima siapa saja. Mereka mengatakan, ‘Ya, datang, datang.” Dan kemudian muncul masalah dari dalam. Hal ini harus dipahami secara serius. “Paus Fransiskus mengakhiri pembicaraannya dengan berterima kasih kepada semua religius  pria dan wanita  atas komitmen dan dedikasi mereka.

“Saya ingin menekankan kepada para religius  yang dikuduskan … bagaimana  Gereja  tanpa biarawati?”  Di banyak negara saat ini, untuk mengatakan “Saya seorang Kristen” merupakan sebuah kejahatan yang bisa mengakibatkan  hukuman mati. Kita melihat penganiayaan terhadap orang  Kristen di media sehari-hari. Paus Franciskus menyebutnya sebagai “perang dunia ketiga, melancarkan sepotong makanan … bentuk pembantaian.” Menurut perkiraan terpercaya, lebih dari 200 juta orang Kristen di 60 negara di seluruh dunia menghadapi beberapa bentuk pembatasan terhadap iman mereka. (L’Osservatore Romano, 15 Januari 2016) Setiap Hari kita melihat gambar /tayangan memilukan. Saya yakin kita masing-masing mendengar suara yang lembut  di hati kita, “Apa yang kamu lakukan untuk mereka?”

Kapitel Umum kita  ke 19 merekomendasikan bahwa “kita melihat  kebutuhan – kebutuhan  orang-orang di sekitar kita, _ dan dengan belas kasih dan kelembutan, menjangkau dan menyembuhkan mereka yang paling rentan di tengah-tengah kita.” Kita diundang untuk membuka mata kita, untuk melihat dunia dengan pikiran terbuka, _ melihat peristiwa melalui mata orang-orang yang menderita. Kita perlu kerendahan hati dan keberanian untuk melihat apa yang tidak relevan lagi dalam cara kita berpikir dan melakukan sesuatu serta terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Mengingat bahwa kita sedang menghadapi masalah global, adalah penting bahwa kita bekerja sama dengan orang lain, bekerja sama dengan kongregasi – kongregasi  lain dan awam. Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita dipanggil untuk “memiliki solidaritas Antar Kongregasi” karena kita yang telah menanggapi panggilan Allah untuk mengikuti Yesus dalam hidup religius adalah semua “penabur” di ladang Tuhan; Allahlah yang membuat benih tumbuh.

Sebagaimana kita memperingati hari wafat Ibu Marie Louise, yang ke 108, mari kita mengenang kembali bahwa dia telah mengalami banyak cobaan dan  penganiayaan. Mari kita, sekali lagi, mendengarkan kata-katanya dan  menyelami imanya yang mendalam  serta keberaniannya.

“Tahun yang baru saja berakhir telah menjadi salah satu cobaan dan penganiayaan … Tapi kita tidak dapat begitu saja merasa  puas atau  hanya  meratapi dan  menangisi situasi … Sekarang demi semua jiwa diperlukan api semangat seperti  St Theresa, St  Fransiskus Xaverius dan Verius. Maka mari kita berjuang, janganlah surut…..menghadapi pengorbanan dan penghinaan. Betapa kita akan menyesal jika pada saat kematian, kita harus mengatakan: Saya  memiliki banyak kesempatan untuk membuktikan cinta saya kepada Yesus dan Maria, namun  saya  lebih memilih mencintai diri sendiri, kemauan saya sendiri, kemudahan saya sendiri … Marilah kita bangkit dari sikap mati suri in,  lamban/lesu berjalan di  jalan pengorbanan. Dan memberi kesempatan pada  orang-orang yang bersemangat  menjadi lebih bersemangat…. “(Ibu Marie Louise Hartzer: Surat Her, # 164)

Bersama-sama, marilah kita bersyukur kepada Allah atas karunia yang berharga yaitu  panggilan kita, dan  marilah kita berusaha untuk tetap setia pada komitmen dan misi : Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana !

Semoga Bunda Hati Kudus mendampingi kita disaat  kita  berusaha untuk “mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:21)

Marife Mendoza fdnsc

Bersama Dewan

Pengunjung FDNSC suka share di sosmed berikut:
FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrPinterestMySpaceShare

Comments

comments

Powered by Facebook Comments